Mantan Menteri Jualan Beras di Glodok

Mantan Menteri Jualan Beras di Glodok

haluannews.id – Fenomena kehidupan para mantan pejabat negara pasca-purna tugas selalu menjadi topik yang memicu rasa penasaran masyarakat. Di tengah maraknya berita tentang pejabat yang hidup bergelimang kemewahan setelah meninggalkan kursi pemerintahan, terselip sebuah kisah inspiratif yang sangat kontras dari seorang tokoh bangsa. Ia adalah Saifuddin Zuhri, mantan Menteri Agama Republik Indonesia yang memilih jalan hidup penuh kesederhanaan hingga harus berjualan beras di pasar tradisional.

COLLABMEDIANET

Saifuddin Zuhri bukanlah nama sembarangan dalam sejarah politik Indonesia. Ia tercatat sebagai Menteri Agama ke-10 yang menjabat sejak tahun 1962 hingga 1967. Setelah masa jabatannya berakhir, ia tetap aktif di dunia politik sebagai anggota DPR-GR dari Fraksi Nahdlatul Ulama (NU) dan kembali terpilih melalui Pemilu 1971. Namun, ketika roda kehidupan benar-benar membawanya pada masa pensiun total, ia tidak memilih untuk menikmati masa tua dengan fasilitas negara yang melimpah.

Mantan Menteri Jualan Beras di Glodok
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Berdasarkan catatan dalam buku Sang Pendoa: Para Kiai Fenomenal Pengayom Kedamaian Umat (2023), pada era 1980-an, Saifuddin menjalani rutinitas yang sangat jauh dari kesan seorang mantan menteri. Ia menjadi seorang pedagang beras di kawasan Pasar Glodok, Jakarta. Setiap pagi, tepat setelah menunaikan salat Dhuha sekitar pukul 09.00 WIB, ia akan menyetir mobilnya sendiri untuk mengangkut karung-karung beras menuju lapak dagangannya.

Menariknya, aktivitas mencari nafkah ini dilakukan secara sangat tertutup. Saifuddin bahkan merahasiakan profesi barunya ini dari anggota keluarganya sendiri. Istri dan anak-anaknya hanya mengetahui bahwa sang ayah selalu pulang membawa uang, namun mereka tidak pernah menyadari bahwa sumber penghasilan tersebut berasal dari keringatnya sendiri sebagai pedagang beras di pasar. Rahasia besar ini akhirnya terbongkar secara tidak sengaja ketika salah satu putranya memergoki sang ayah sedang sibuk melayani pembeli di tengah hiruk pikuk Pasar Glodok.

Jiwa kemandirian ini sebenarnya sudah mendarah daging sejak masa mudanya. Dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren (1984), ia mengisahkan bahwa pada tahun 1942, ia pernah berjualan berbagai barang mulai dari pakaian bekas, perabotan loak, hingga rokok demi menyambung hidup saat anak pertamanya lahir.

Integritas Saifuddin juga terlihat jelas saat ia masih menjabat sebagai menteri. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat keras menolak segala bentuk fasilitas negara yang dianggapnya bisa memicu keserakahan. Salah satu bukti nyatanya adalah penolakannya terhadap rumah dinas mewah. Meski terus didesak, ia memilih mencicil rumah pribadi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bahkan, setelah cicilan rumah tersebut lunas, ia justru menghibahkan huniannya tersebut untuk kepentingan sosial Nahdlatul Ulama.

Kisah hidup Saifuddin Zuhri menjadi pengingat keras bagi para pemegang kekuasa saat ini. Ia mengajarkan bahwa jabatan adalah amanah suci, dan kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kemewahan yang ia miliki setelah pensiun, melainkan oleh integritas dan kesederhanaan yang ia jaga hingga akhir hayat.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar