haluannews.id – Sektor pembiayaan multifinance di Indonesia menghadapi tantangan serius. Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan OJK menunjukkan laju pertumbuhan penyaluran kredit yang masih lesu hingga Juli 2026. Di tengah ekspansi yang kurang bergairah indikasi risiko kredit justru mulai terlihat sedikit memburuk.

Related Post
Menurut catatan OJK total piutang pembiayaan yang dikelola oleh perusahaan multifinance pada Juli 2026 mencapai angka Rp51305 triliun. Angka ini hanya mencatatkan kenaikan sebesar 201 persen secara tahunan year on year. Meskipun sedikit lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya Juni 2026 yang tumbuh 188 persen yoy pertumbuhan ini masih tergolong lambat jika dibandingkan potensi pasar.

Agusman Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan Perusahaan Modal Ventura Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya PVML OJK menjelaskan bahwa dorongan utama di balik pertumbuhan tipis ini berasal dari peningkatan pembiayaan modal kerja. "Peningkatan pembiayaan modal kerja sebesar 632 persen year on year menjadi penopang utama pertumbuhan piutang pembiayaan" ujarnya dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner OJK Bulan Agustus 2026.
Namun di balik pertumbuhan yang belum optimal ini kualitas aset pembiayaan justru menunjukkan sinyal peringatan. Rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing NPF gross pada Juli 2026 tercatat di level 303 persen. Angka ini sedikit naik dari 301 persen pada Juni 2026. Sementara itu NPF net tetap stabil di 081 persen.
Jika melihat perbandingan tahunan NPF gross mengalami kenaikan yang lebih signifikan dari 252 persen pada Juli 2025 menjadi 303 persen di Juli 2026. Meskipun NPF net menunjukkan sedikit perbaikan dari 088 persen menjadi 081 persen secara tahunan peningkatan NPF gross tetap menjadi perhatian.
Meski demikian OJK menegaskan bahwa profil risiko industri pembiayaan masih dalam kategori terjaga. Hal ini tercermin dari rasio gearing yang berada di level 210 kali jauh di bawah batas maksimum yang ditetapkan yaitu 10 kali.
Laju pertumbuhan 201 persen yoy yang dicatatkan multifinance ini jauh tertinggal dibandingkan beberapa sektor lain di bawah pengawasan PVML OJK. Sebagai contoh industri pinjaman daring Pindar mencatat lonjakan outstanding pembiayaan hingga 2476 persen yoy mencapai Rp10563 triliun pada Juli 2026. Bahkan industri pergadaian menunjukkan performa yang lebih fantastis dengan pertumbuhan 5073 persen yoy mencapai Rp16078 triliun.
Di sisi lain sektor modal ventura justru mengalami kontraksi sebesar 046 persen yoy dengan total pembiayaan Rp1632 triliun. Demikian pula Lembaga Keuangan Mikro LKM yang juga terkontraksi 040 persen yoy dengan penyaluran pembiayaan Rp105 triliun.








Tinggalkan komentar