KFC Indonesia di Ujung Tanduk? Utang Membengkak, Gerai Tutup!

KFC Indonesia di Ujung Tanduk? Utang Membengkak, Gerai Tutup!

Haluannews Ekonomi – PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), entitas di balik operasional jaringan restoran cepat saji KFC di Indonesia, masih bergulat dengan tekanan finansial yang signifikan sepanjang tahun 2025. Meskipun berhasil menekan angka kerugian bersih, perusahaan justru menghadapi lonjakan beban utang yang masif, diiringi dengan penutupan puluhan gerai di berbagai lokasi.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian tahun buku 2025 yang dirilis, FAST mencatat kerugian bersih sebesar Rp369 miliar. Angka ini memang menunjukkan perbaikan substansial dibandingkan kerugian Rp798 miliar pada tahun sebelumnya. Namun, perbaikan tersebut belum mampu mengangkat kinerja operasional perusahaan ke zona profitabilitas, dengan rugi usaha masih tercatat sebesar Rp311 miliar. Sementara itu, pendapatan perseroan terpantau stagnan di kisaran Rp4,88 triliun.

KFC Indonesia di Ujung Tanduk? Utang Membengkak, Gerai Tutup!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sorotan tajam justru tertuju pada struktur permodalan dan kewajiban perusahaan. Utang bank jangka panjang FAST melonjak drastis, mencapai Rp1,82 triliun pada akhir 2025. Angka ini meroket hampir lima kali lipat dari posisi Rp353 miliar pada tahun sebelumnya, mengindikasikan ketergantungan yang semakin besar pada pembiayaan eksternal di tengah kondisi keuangan yang menantang.

Situasi ini bahkan memicu perhatian serius dari auditor, yang menyoroti adanya ketidakpastian material terkait kelangsungan usaha (going concern) FAST. Indikatornya jelas: liabilitas jangka pendek perusahaan melampaui aset lancar hingga Rp1,3 triliun, ditambah lagi dengan akumulasi kerugian yang telah menembus angka Rp507 miliar. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai stabilitas finansial jangka panjang perusahaan.

Sebagai respons terhadap tekanan pasar dan efisiensi operasional, FAST juga melakukan rasionalisasi jaringan bisnisnya. Jumlah gerai KFC menyusut menjadi 690 outlet pada akhir 2025, dari 715 outlet pada 2024, menandakan penutupan sekitar 25 gerai. Ironisnya, di tengah upaya efisiensi ini dan kondisi keuangan yang tertekan, perusahaan tetap agresif dalam belanja modal. Arus kas untuk aktivitas investasi tercatat mencapai Rp1 triliun, yang mayoritas dialokasikan untuk penambahan aset tetap dan renovasi.

Meskipun demikian, terdapat secercah harapan dari sisi likuiditas operasional. Perusahaan masih mampu mencatat arus kas operasi positif sebesar Rp203 miliar. Namun, tantangan yang dihadapi FAST, terutama terkait beban utang yang membengkak dan peringatan kelangsungan usaha, menunjukkan bahwa jalan menuju pemulihan penuh masih panjang dan berliku bagi operator KFC di Indonesia ini.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar