haluannews.id – Pasar saham Asia-Pasifik memulai perdagangan Jumat 17 Juli 2026 dengan tekanan, diwarnai gelombang aksi jual masif pada saham-saham semikonduktor global. Sentimen negatif ini dipicu oleh laporan keuangan terbaru dari Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor. Selain itu, dinamika pelemahan di Wall Street yang masih dibayangi volatilitas sektor kecerdasan buatan (AI) turut memberikan kontribusi pada suasana suram pasar, demikian dilaporkan haluannews.id.

Related Post
Di Jepang, indeks Nikkei 225 terpantau melemah 0,6% pada sesi pembukaan, sementara indeks Topix juga menunjukkan penurunan sebesar 0,3%. Situasi serupa terlihat di bursa Australia, di mana indeks acuan S&P/ASX 200 terkoreksi 0,2%. Sementara itu, aktivitas perdagangan di bursa Korea Selatan ditiadakan karena bertepatan dengan libur nasional.

Tekanan jual yang mendominasi pasar utamanya berasal dari sektor chip. Dana investasi ETF VanEck Semiconductor (SMH) anjlok hampir 4% setelah saham TSMC merosot lebih dari 2% pasca pengumuman kinerja kuartal kedua. Meskipun TSMC mencatatkan lonjakan laba bersih yang signifikan dibanding periode tahun sebelumnya, keputusan perusahaan untuk menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure) sepanjang tahun ini justru memicu kehati-hatian investor. Proyeksi capex yang lebih tinggi seringkali diinterpretasikan sebagai sinyal potensi perlambatan pertumbuhan di masa depan atau peningkatan risiko.
Penurunan saham TSMC ini kemudian menyeret emiten semikonduktor lainnya, termasuk Marvell Technology, STMicroelectronics, dan Micron, ke zona merah. Koreksi tajam pada Kamis lalu menyebabkan ETF SMH telah kehilangan 6,9% nilainya sepanjang pekan ini, menempatkannya pada jalur pelemahan mingguan ketiga dalam empat pekan terakhir. Ini menunjukkan adanya tren koreksi yang berkelanjutan di sektor vital tersebut.
Gejolak di sektor chip juga turut membebani indeks-indeks utama Wall Street sepanjang pekan berjalan. Indeks S&P 500 turun 0,6%, Dow Jones Industrial Average melemah 0,2%, dan Nasdaq terkoreksi 1,5%. Kendati demikian, di tengah tekanan pada saham-saham AI dan semikonduktor, S&P 500 masih mampu bertahan sekitar 1% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada awal Juni. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar saham Amerika Serikat secara keseluruhan masih menunjukkan ketahanan yang relatif baik, meskipun terjadi aksi ambil untung pada saham-saham teknologi.
Menanggapi situasi ini, Chief U.S. Strategist Ned Davis Research, Ed Clissold, berpendapat bahwa kondisi pasar saat ini belum mengindikasikan puncak siklus bullish yang besar. Ia justru menyoroti bahwa pasar akan lebih mengkhawatirkan jika indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 menunjukkan kinerja yang jauh lebih buruk dalam beberapa pekan terakhir. Clissold menambahkan, ekonomi Amerika Serikat kemungkinan besar hanya akan mengalami perlambatan dalam jangka pendek dan belum mengarah pada resesi. Menurutnya, fase konsolidasi seperti yang terjadi saat ini justru dapat membantu menormalisasi valuasi yang terlalu tinggi di beberapa sektor sebelum pasar kembali melanjutkan tren berikutnya.










Tinggalkan komentar