Haluannews Ekonomi – Ekonomi Britania Raya secara tak terduga mengalami kontraksi pada bulan Oktober, menurut data resmi yang baru-baru ini dirilis pada Jumat. Kabar ini menjadi pukulan telak bagi ambisi pemerintah Partai Buruh di bawah kepemimpinan Keir Starmer yang berupaya keras menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi. Angka terbaru ini juga jauh di bawah ekspektasi para analis pasar, memicu kekhawatiran akan prospek ekonomi Negeri Ratu Elizabeth.

Related Post
Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) melaporkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut turun 0,1% pada Oktober, setelah sebelumnya juga mengalami kontraksi 0,1% pada September. Ini menandai periode tanpa pertumbuhan ekonomi selama empat bulan berturut-turut, sebuah sinyal yang mengkhawatirkan bagi stabilitas makroekonomi Inggris.

Merujuk pada analisis Trading Economics, sektor jasa menjadi kontributor negatif terbesar, anjlok 0,3% setelah sempat naik 0,2% pada September. Penurunan signifikan terlihat pada perdagangan grosir dan eceran serta perbaikan kendaraan bermotor dan sepeda motor yang merosot 4,3%. Selain itu, sektor pemrograman komputer, konsultasi, dan aktivitas terkait juga mengalami kemerosotan sebesar 3,6%, menunjukkan tekanan pada sektor-sektor kunci.
Tak hanya itu, sektor konstruksi juga menunjukkan pelemahan, turun 0,6% dibandingkan kenaikan 0,2% pada September. Kontribusi negatif utama berasal dari pembangunan perumahan baru swasta yang anjlok 2,4%, mengindikasikan perlambatan investasi di sektor properti.
Di tengah gelombang kontraksi, sektor produksi justru menunjukkan secercah harapan dengan peningkatan 1,1%, pulih dari penurunan 2% sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh sektor manufaktur yang naik 0,5%, terutama manufaktur kendaraan bermotor dan trailer yang melonjak 9,5%. Sektor pertambangan juga tumbuh 4,3%, diikuti oleh listrik, gas, uap, dan pendingin udara (2,1%), serta air, sanitasi, dan pengelolaan limbah (1,5%).
Secara agregat, PDB Inggris juga tercatat mengalami kontraksi sebesar 0,1% dalam periode tiga bulan hingga Oktober. Kondisi ini menempatkan ekonomi Inggris dalam posisi yang rentan, memicu spekulasi tentang potensi resesi dan tantangan berat yang menanti para pembuat kebijakan di London dalam upaya mereka menstimulasi pertumbuhan dan menjaga kepercayaan investor.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar