Haluannews Ekonomi – PT Bakrie Capital Indonesia kembali menunjukkan manuver agresifnya di pasar modal dengan memborong ratusan juta saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI). Transaksi signifikan yang terjadi baru-baru ini melibatkan akuisisi 464.516.000 lembar saham BIPI pada harga Rp 250 per unit. Langkah ini memperkuat posisi Bakrie di BIPI, meningkatkan kepemilikan mereka dari 6% menjadi 6,73%, atau setara dengan 4.287.135.800 unit saham.

Related Post
Aksi beli jumbo oleh Bakrie ini terjadi di tengah fluktuasi harga saham BIPI. Meskipun pada penutupan perdagangan hari ini, saham BIPI sempat terkoreksi 1,45% ke level Rp 272, kinerja jangka pendek dan menengah emiten infrastruktur ini tetap memukau. Dalam lima hari terakhir, saham BIPI telah melonjak 15,38%, dan secara year-to-date (YTD), performanya terbang fantastis hingga 193,48%. Kenaikan signifikan ini mengindikasikan kepercayaan pasar terhadap prospek perusahaan, terlepas dari koreksi sesaat.

Keputusan Bakrie untuk menambah kepemilikan di BIPI bukan tanpa alasan strategis. Perusahaan ini diketahui tengah gencar melakukan diversifikasi bisnis, terutama ke sektor energi baru dan terbarukan. Belum lama ini, BIPI mengakuisisi dua entitas, yakni PT Indoplas Makmur Lestari dan PT Mahareksa Kapital Indonesia, yang merupakan bagian dari PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA). Akuisisi ini menandai langkah konkret BIPI untuk merambah bisnis pengelolaan sampah menjadi energi (waste-to-energy/WTE), sebuah sektor yang memiliki potensi pertumbuhan besar di masa depan.
Manajemen BIPI menegaskan bahwa transaksi akuisisi tersebut memberikan nilai strategis dan selaras dengan arah pengembangan usaha perseroan. Hal ini sejalan dengan rencana ambisius perusahaan yang diungkapkan akhir tahun lalu, yaitu memulai proyek WTE pada tahun 2026 dengan estimasi nilai investasi mencapai US$300 juta hingga US$350 juta.
Di balik struktur kepemilikan BIPI, berdasarkan Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek per 31 Maret 2026, Halim Jusuf tercatat sebagai penerima manfaat akhir. Ia mengendalikan BIPI melalui PT Indotambang Perkasa yang menggenggam 19,39% saham. Selain itu, CGS-CIMB Securities juga tercatat sebagai salah satu pemegang saham signifikan dengan porsi 12,7%.
Langkah Bakrie Capital Indonesia ini dapat diinterpretasikan sebagai sinyal kuat bahwa konglomerasi tersebut melihat potensi cerah di sektor infrastruktur dan energi terbarukan melalui BIPI. Dengan modal yang kuat dan strategi ekspansi yang jelas menuju WTE, BIPI berpotensi menjadi pemain kunci dalam transisi energi Indonesia, menarik minat investor strategis seperti Bakrie.
Editor: Rohman








Tinggalkan komentar