Haluannews Ekonomi – Jakarta – Sektor petrokimia dan industri turunannya, termasuk plastik, kini menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga minyak mentah dunia dan gangguan rantai pasok energi. Situasi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah, menciptakan gelombang dampak yang terasa hingga ke produsen kemasan di Indonesia.

Related Post
PT Berlina Tbk (BRNA), emiten yang fokus pada produksi kemasan plastik, merasakan langsung imbas dari gejolak tersebut. Direktur Utama BRNA, Pujihasana Wijaya, menjelaskan bahwa perusahaannya sangat bergantung pada bahan baku resin plastik yang merupakan hasil olahan minyak bumi. Konflik di Timur Tengah, yang mencakup ketegangan antara Iran dan AS-Israel, secara langsung memicu kenaikan harga bahan baku esensial ini. Meskipun demikian, BRNA masih mampu menjaga stabilitas bisnis berkat serapan yang kuat dari industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG), yang dikenal lebih defensif dalam menghadapi fluktuasi ekonomi.

Wijaya mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan baku plastik telah mencapai angka yang mencengangkan, berkisar antara 40% hingga 100%. Mengingat porsi bahan baku menyumbang sekitar 50% dari total biaya produksi, kenaikan harga jual produk kemasan plastik menjadi langkah yang tidak dapat dihindari. Kondisi ini berpotensi memicu efek domino pada harga produk-produk konsumsi yang menggunakan kemasan plastik, yang pada akhirnya akan membebani kantong konsumen.
Untuk menjamin keberlangsungan industri di tengah tantangan ini, produsen kemasan plastik sangat mengharapkan dukungan dari pemerintah. Mereka menyoroti perlunya kepastian regulasi, kemampuan adaptasi terhadap ekspektasi konsumen yang terus berkembang, serta penanganan isu-isu krusial terkait tren keberlanjutan dan lingkungan.
Dampak mendalam dari kenaikan harga bahan baku ini dibahas lebih lanjut oleh Pujihasana Wijaya dalam dialognya dengan Shafinaz Nachiar di program Closing Bell, Haluannews.id, pada Rabu, 15 April 2026.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar