IHSG Terbang 1,4%: Badai Geopolitik Tak Mampu Goyahkan Pasar RI?

IHSG Terbang 1,4%: Badai Geopolitik Tak Mampu Goyahkan Pasar RI?

Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia menunjukkan ketahanan luar biasa pagi ini, Selasa (14/4/2026), saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melesat 1,4% atau setara 105,19 poin, mencapai level 7.605,38. Kenaikan signifikan ini terjadi di tengah gejolak geopolitik global yang memanas, khususnya konflik Iran-Amerika Serikat yang mengancam stabilitas ekonomi dunia.

COLLABMEDIANET

Kinerja IHSG yang impresif ini didukung oleh dominasi saham yang menguat, dengan 425 saham naik, berbanding 73 saham turun, dan 461 saham stagnan. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 662,6 miliar, melibatkan 923,7 juta saham dalam 80.560 kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun turut terkerek naik menjadi Rp 13.515 triliun, mencerminkan kepercayaan investor domestik di tengah ketidakpastian.

IHSG Terbang 1,4%: Badai Geopolitik Tak Mampu Goyahkan Pasar RI?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, di balik optimisme pasar domestik, bayang-bayang ketegangan global masih membayangi. Pergerakan pasar finansial dan komoditas global hari ini diwarnai oleh berbagai rilis data makroekonomi utama dari kawasan Asia seperti Neraca Perdagangan China, PPI AS, serta dinamika geopolitik yang kian memanas. Konflik antara Iran dan Amerika Serikat, yang gagal menemukan titik terang dalam perundingan akhir pekan di Islamabad, kini memasuki babak baru.

Militer Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan Iran pada Senin, sementara Teheran merespons dengan ancaman pembalasan terhadap pelabuhan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk. Situasi ini mendorong harga minyak mentah kembali menembus US$100 per barel, tanpa ada indikasi pembukaan cepat Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya dilalui seperlima pasokan minyak dunia.

Seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa komunikasi dengan Iran masih terus berlangsung, dan terdapat kemajuan dalam upaya mencapai kesepakatan. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga menyatakan bahwa upaya penyelesaian konflik masih berjalan. Namun, Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir, meskipun ada komunikasi yang menunjukkan keinginan Iran untuk mencapai kesepakatan. "Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Kita tidak bisa membiarkan sebuah negara memeras atau mengancam dunia," kata Trump, seperti dikutip dari laporan media internasional.

Sejak Amerika Serikat dan Israel memulai perang pada 28 Februari, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi semua kapal kecuali miliknya sendiri, menuntut biaya tertentu untuk pelayaran. Trump mengancam akan memblokir kapal-kapal Iran dan kapal mana pun yang membayar biaya tersebut, serta akan memusnahkan kapal-kapal "serangan cepat" Iran yang mendekati blokade. Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik, juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, memperingatkan bahwa upaya militer asing untuk mengawasi selat itu akan memperparah krisis dan ketidakstabilan keamanan energi global. Sekutu NATO, termasuk Inggris dan Prancis, menolak terlibat dalam blokade, menekankan pentingnya pembukaan kembali jalur laut tersebut.

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran ini diperkirakan merambat ke Indonesia melalui tiga kanal utama. Pertama, jalur finansial, di mana ketidakpastian memicu sentimen "risk-off", mendorong modal asing keluar dari pasar berkembang ke aset "safe haven" di AS, menguatkan indeks dolar (DXY) dan menekan nilai tukar Rupiah. Kedua, jalur komoditas, potensi gangguan pelayaran di Selat Hormuz menaikkan harga minyak mentah dunia. Namun, hal ini secara tidak langsung memberikan kompensasi bagi Indonesia melalui kenaikan harga komoditas ekspor andalan seperti batu bara, CPO, nikel, dan emas. Ketiga, jalur perdagangan, gangguan rantai pasok dan logistik maritim berpotensi memicu stagflasi global, yaitu kondisi perlambatan pertumbuhan ekonomi yang disertai dengan lonjakan inflasi.

Meski demikian, fundamental ekonomi domestik Indonesia dinilai tetap kokoh. Inflasi yang sempat meninggi pada awal tahun akibat efek basis rendah dari pencabutan subsidi listrik kini mulai terkendali dan berada pada target sasaran Bank Indonesia (BI), yakni 2,5% ± 1%. Keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi juga berperan penting dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus menstabilkan Rupiah. Dengan indikator produksi yang masih ekspansif, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 diproyeksikan mampu mencapai 5,2%.

Sebagai bentuk respons mitigasi, Bank Indonesia telah menyiagakan pemantauan pasar 24 jam dengan mengoptimalkan kantor perwakilan di London dan New York, serta melakukan intervensi likuiditas secara terukur di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF) global, maupun Domestic NDF (DNDF). Langkah-langkah ini menunjukkan kesiapan otoritas moneter dalam menghadapi gejolak eksternal demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar