Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan ketahanan dengan penguatan terbatas pada penutupan sesi pertama perdagangan Jumat (17/4/2026). Indeks berhasil naik 15,50 poin atau 0,20%, mengakhiri paruh pertama hari di level 7.645,81, ditopang oleh kinerja positif sejumlah saham unggulan di tengah dinamika pasar global yang penuh tantangan.

Related Post
Data dari Haluannews.id mencatat aktivitas perdagangan yang cukup ramai, di mana 331 saham berhasil menguat, sementara 291 saham melemah, dan 194 saham lainnya tidak bergerak. Nilai transaksi pada sesi pagi ini mencapai Rp 8,20 triliun, melibatkan 23,88 miliar saham yang berpindah tangan dalam 1,39 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun turut terkerek naik, mencapai Rp 13.669 triliun.

Secara sektoral, mayoritas sektor perdagangan mencatatkan performa positif. Sektor infrastruktur, barang baku, dan konsumer primer menjadi lokomotif utama kenaikan, menunjukkan daya tarik investor pada segmen-segmen tersebut. Namun, tidak semua sektor bernasib sama; sektor finansial, kesehatan, dan industri tercatat mengalami koreksi paling dalam.
Beberapa emiten menjadi motor utama penggerak IHSG. Konglomerasi bisnis Astra International (ASII) tampil sebagai penyumbang terbesar dengan 7,98 indeks poin, setelah sahamnya menguat 3,23% ke level Rp 6.400 per saham. Disusul oleh BREN dan MORA yang masing-masing berkontribusi 6,46 dan 3,14 indeks poin. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga turut menopang dengan kenaikan 0,59% ke Rp 3.430 per saham, menyumbang 3,14 indeks poin. Emiten lain yang ikut menjaga momentum positif IHSG termasuk TPIA, CUAN, AMMN, MLPT, BRPT, dan BRMS.
Perdagangan terakhir pekan ini memang diwarnai oleh serangkaian sentimen fundamental dan geopolitik yang krusial. Dinamika eksternal, seperti ketegangan yang masih membayangi kawasan Timur Tengah, anomali di pasar derivatif Amerika Serikat, hingga rilis data makroekonomi Tiongkok, menjadi faktor penggerak utama yang dicermati pelaku pasar.
Kabar positif datang dari kesepakatan gencatan senjata sementara selama 10 hari antara Israel dan Lebanon, setelah pertemuan pejabat kedua negara di Washington. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata akan dimulai pukul 17.00 waktu AS Timur (ET), dan ia berencana mengundang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta Presiden Lebanon Joseph Aoun ke Gedung Putih untuk "pembicaraan bermakna pertama sejak 1983." Kementerian Luar Negeri AS menegaskan komitmen kedua negara untuk menciptakan kondisi perdamaian jangka panjang dan pengakuan kedaulatan.
Di Selat Hormuz, lalu lintas pelayaran kapal tanker minyak mulai menunjukkan pergerakan, meskipun volume secara keseluruhan masih anjlok hingga 90% dibandingkan kondisi normal sebelum konflik. Beberapa kapal tanker berukuran sangat besar (VLCC) seperti RHN dan Alicia terpantau melintas. Presiden Trump mengklaim telah membuka Selat Hormuz secara permanen sebagai hasil kesepakatan dengan Tiongkok, di mana Beijing menyetujui untuk tidak lagi mengirimkan pasokan senjata ke Iran.
Dari dalam negeri, di tengah gejolak global, sentimen positif mengalir bagi perekonomian domestik. Lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) memutuskan untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan prospek stabil. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa S&P mengapresiasi komitmen pemerintah Indonesia dalam menjaga disiplin fiskal, terutama upaya menahan defisit anggaran di bawah batas 3% terhadap PDB, dengan realisasi terbaru di level 2,8%.
Faktor lain yang menambah keyakinan lembaga pemeringkat adalah perbaikan kinerja pengumpulan pendapatan negara. Kinerja penerimaan pajak yang tumbuh hingga 30% pada dua bulan pertama tahun ini, dan 20% pada Januari-Maret dibandingkan tahun lalu, dipandang sebagai hasil positif dari restrukturisasi organisasi perpajakan dan kepabeanan. Meskipun S&P menyoroti rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan yang berada di atas 15%, Purbaya meyakinkan bahwa indikator tersebut dapat dikendalikan ke depan, sejalan dengan perbaikan pengumpulan pajak dan cukai serta arahan Presiden Prabowo untuk menjaga defisit di bawah 3%.
Dengan demikian, kinerja IHSG pada sesi pertama ini menunjukkan ketahanan pasar modal domestik dalam menghadapi tekanan eksternal, didukung oleh fundamental ekonomi yang solid dan kepercayaan investor terhadap kebijakan fiskal pemerintah.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar