haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG secara mengejutkan melaju kencang pada perdagangan Kamis 17 September 2026 pagi. Kenaikan ini terjadi di tengah bayang-bayang sentimen negatif global yang dipicu oleh keputusan bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve The Fed menaikkan suku bunga acuan.

Related Post
Berdasarkan data terkini IHSG dibuka pada level 645503 melonjak dari posisi penutupan sebelumnya di 643685. Pada pukul 0900 WIB indeks tercatat menguat 027 persen mencapai 645445 dan terus melanjutkan tren positifnya hingga menyentuh kenaikan 06 persen. Sepanjang awal perdagangan IHSG sempat menyentuh puncak 646057 dan terendah di 645296 menunjukkan dinamika pasar yang menarik.

Penguatan hari ini menjadi sorotan mengingat IHSG sempat ditutup melemah 038 persen pada perdagangan Rabu 16 September 2026. Kala itu indeks sempat perkasa lebih dari 1 persen di awal sesi namun berbalik arah ke zona merah menjelang penutupan. Pergerakan saham pagi ini pun masih menunjukkan keragaman dengan 199 saham menguat 150 saham melemah dan 614 saham tidak bergerak. Total nilai transaksi mencapai Rp1885 miliar dengan volume perdagangan 3988 juta saham dan frekuensi transaksi sebanyak 31180 kali.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan berat hari ini. Keputusan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 375-4 persen menjadi pemicu utama. Kebijakan ini segera direspons dengan lonjakan nilai dolar AS dan imbal hasil US Treasury yang menjadi sentimen dominan membayangi pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah.
The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga pertamanya sejak Juli 2023 dan mengisyaratkan kemungkinan kenaikan lanjutan hingga akhir tahun. Mayoritas pejabat The Fed yakni 16 dari 18 orang memproyeksikan setidaknya ada satu lagi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Sikap ini mencerminkan kekhawatiran serius bank sentral AS terhadap inflasi yang masih tinggi.
Dampak langsungnya indeks dolar AS langsung melesat ke level 100252 tertinggi sejak 12 Agustus 2026. Sementara itu imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun menembus angka 5004 persen level tertinggi sejak Juli 2007. Kondisi ini berpotensi besar meningkatkan tekanan terhadap rupiah dan mendorong investor memindahkan dananya ke aset berdenominasi dolar AS. Kenaikan imbal hasil US Treasury juga membuat obligasi AS semakin menarik dibanding aset negara berkembang termasuk saham dan surat utang di Indonesia.
Tekanan pasar semakin diperparah oleh memanasnya konflik di Timur Tengah. Kelompok Houthi dilaporkan berhasil menguasai sejumlah wilayah dan pulau di sekitar Selat Bab el-Mandeb sebuah jalur strategis vital bagi perdagangan minyak global. Bersama Selat Hormuz jalur ini merupakan titik krusial distribusi energi dunia. Perkembangan ini meningkatkan risiko gangguan pasokan dan distribusi minyak yang dapat mempertahankan tekanan harga energi. Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar risiko inflasi global sekaligus menambah beban bagi negara-negara pengimpor energi termasuk Indonesia.
Di sisi lain tekanan terhadap The Fed juga datang dari Presiden AS Donald Trump yang kembali mendesak penurunan suku bunga secara agresif hingga 1 persen atau lebih rendah. Perbedaan pandangan ini menambah perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter AS dan independensi bank sentral.
Dari dalam negeri pelaku pasar juga akan mencermati beberapa perkembangan penting. Mulai dari penerapan pemungutan PPh bagi pedagang daring melalui marketplace yang berlaku efektif 1 Oktober 2026 hingga penindakan tegas Otoritas Jasa Keuangan OJK terhadap emiten yang melanggar ketentuan pasar modal.
Sementara itu pasar global akan menantikan rilis klaim pengangguran AS dan data inflasi final Zona Euro Agustus 2026 serta keputusan suku bunga dari Bank of England BoE. Data dan keputusan tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk tambahan mengenai kondisi ekonomi global dan arah kebijakan moneter bank sentral dunia.










Tinggalkan komentar