IHSG Melesat Meski Dunia Dihantam Kabar Buruk

IHSG Melesat Meski Dunia Dihantam Kabar Buruk

haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG menunjukkan performa mengejutkan pada perdagangan Kamis. Di tengah badai sentimen negatif global yang menerpa, indeks acuan pasar modal Indonesia ini justru berhasil menguat 0,42% dan menutup sesi di level 6.463,61. Pencapaian ini terbilang istimewa mengingat pasar sedang dihantui oleh keputusan bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve atau The Fed yang menaikkan suku bunga acuan, serta memanasnya konflik di Timur Tengah.

COLLABMEDIANET

Pergerakan IHSG hari ini cukup dinamis, sempat menyentuh level terendah 6.418 sebelum akhirnya mencapai puncak 6.500. Kenaikan ini menjadi angin segar setelah sehari sebelumnya, Rabu, IHSG ditutup melemah 0,38% setelah sempat melonjak lebih dari 1% di awal perdagangan. Total nilai transaksi hari ini mencapai Rp 7,88 triliun, melibatkan 16,90 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,12 juta kali transaksi. Tercatat, 374 saham berhasil menguat, sementara 234 saham melemah, dan 178 saham stagnan.

IHSG Melesat Meski Dunia Dihantam Kabar Buruk
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Mayoritas sektor perdagangan menunjukkan kinerja positif, dengan sektor energi, konsumer, dan finansial memimpin penguatan. Sebaliknya, sektor kesehatan, properti, dan barang baku harus rela berada di zona merah. Beberapa emiten yang menjadi penopang utama kenaikan IHSG antara lain BMRI, BYAN, DSSA, BBRI, dan CUAN.

Kekuatan IHSG ini muncul di tengah tekanan global yang signifikan. The Fed baru saja mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, membawa rentang suku bunga menjadi 3,75%-4%. Ini adalah kenaikan pertama sejak Juli 2023, dan sinyal dari 16 dari 18 pejabat The Fed mengindikasikan kemungkinan kenaikan lanjutan hingga akhir tahun, mencerminkan kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi. Keputusan ini sontak memicu penguatan indeks dolar AS ke level 100,252, tertinggi sejak 12 Agustus 2026, serta melonjaknya imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun hingga menembus 5,004%, level tertinggi sejak Juli 2007. Kondisi ini berpotensi memicu tekanan pada nilai tukar rupiah dan mendorong perpindahan dana investor ke aset berdenominasi dolar AS, serta meningkatkan daya tarik obligasi AS dibandingkan aset negara berkembang.

Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga turut memperkeruh suasana pasar. Kelompok Houthi dilaporkan berhasil menguasai sejumlah wilayah strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur penting bagi perdagangan minyak global. Perkembangan ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan dan distribusi minyak dunia, yang berpotensi menjaga harga energi tetap tinggi dan memperbesar risiko inflasi global, sekaligus menambah beban bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Di tengah situasi ini, Presiden AS Donald Trump juga kembali menyuarakan desakan agar The Fed menurunkan suku bunga secara agresif hingga 1% atau lebih rendah, menambah dinamika perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter AS dan independensi bank sentral. Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menantikan sejumlah perkembangan, termasuk penerapan pemungutan PPh pedagang daring melalui marketplace mulai 1 Oktober 2026 dan tindakan tegas Otoritas Jasa Keuangan OJK terhadap emiten yang melanggar ketentuan pasar modal. Sementara itu, pasar global akan mencermati rilis klaim pengangguran AS, inflasi final Zona Euro Agustus 2026, serta keputusan suku bunga Bank of England BoE yang diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai kondisi ekonomi global.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar