Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tipis sebesar 3,21 poin atau 0,04% pada penutupan sesi pertama Rabu (24/9/2025), menutup perdagangan di level 8.121,99. Pergerakan ini terjadi setelah IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) pada perdagangan sebelumnya. Meskipun demikian, aktivitas perdagangan terbilang ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp 28 triliun, melibatkan 36,69 miliar saham dalam 1,94 juta kali transaksi.

Related Post
Saham Merdeka Gold Resources (EMAS), yang baru dua hari melantai di Bursa Efek Indonesia, masih menjadi primadona investor di pasar reguler dengan nilai transaksi tertinggi mencapai Rp 571,7 miliar. Sementara itu, di pasar negosiasi, saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Central Asia (BBCA) mencatatkan transaksi triliunan rupiah. Ironisnya, BBCA justru menjadi penekan utama kinerja IHSG hari ini, meskipun saham BRPT membantu membatasi penurunan yang lebih dalam.

Mayoritas sektor perdagangan berada di zona merah, dengan sektor kesehatan dan utilitas mengalami koreksi terdalam. Sebaliknya, sektor barang baku dan konsumer primer menunjukan kenaikan tertinggi. Kondisi serupa juga terlihat di pasar Asia-Pasifik, dengan Indeks ASX/S&P 200 Australia turun 0,61%, Nikkei 225 Jepang merosot 0,33%, dan Topix terkoreksi 0,35%. Kospi Korea Selatan melemah 0,11%, sementara Kosdaq turun 0,39%. Namun, kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong menunjukkan potensi pembukaan positif.
Investor juga tengah menantikan rilis data inflasi Australia untuk Agustus, yang dinilai krusial untuk menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya. Sentimen negatif juga datang dari Wall Street, di mana tiga indeks utama AS kompak terkoreksi. S&P 500 misalnya, melemah 0,55% ke 6.656,92 setelah sempat menyentuh rekor intraday, dipicu keraguan investor terhadap keberlanjutan tren bullish kecerdasan buatan (AI). Nasdaq Composite anjlok hampir 1%, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi tipis 0,19%.
Ketua Federal Reserve AS, Jerome Powell, menyatakan bahwa bank sentral menghadapi "situasi yang menantang" dengan risiko inflasi yang berpotensi lebih cepat dari perkiraan, di tengah pertumbuhan lapangan kerja yang lemah. Powell juga mencatat tingginya valuasi aset, termasuk saham, meskipun menegaskan bahwa saat ini bukan masa dengan risiko stabilitas keuangan yang meningkat.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar