IHSG Anjlok Terendah 5 Tahun: Sinyal Bahaya Ekonomi RI?

IHSG Anjlok Terendah 5 Tahun: Sinyal Bahaya Ekonomi RI?

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kinerja suram pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Indeks acuan bursa domestik ini terjun bebas nyaris 5%, tepatnya ambles 4,94% atau kehilangan 306 poin dalam satu sesi perdagangan, menutup hari di level 5.889,48.

COLLABMEDIANET

Penurunan drastis ini menempatkan IHSG pada posisi terendah dalam lima tahun terakhir. Kali terakhir IHSG ditutup di level yang lebih rendah dari hari ini adalah pada Mei 2021, saat pasar sedang dalam fase rebound pasca-keterpurukan akibat pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan investor, apakah pasar modal Indonesia sedang dalam perjalanan kembali menuju level terendah era pandemi.

IHSG Anjlok Terendah 5 Tahun: Sinyal Bahaya Ekonomi RI?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Tekanan jual yang masif terlihat jelas dari data perdagangan. Hanya 35 saham yang berhasil menguat, sementara 714 saham atau nyaris seluruh emiten yang aktif diperdagangkan bergerak di zona merah. Meskipun demikian, nilai transaksi selama sesi pertama tercatat cukup ramai, mencapai hampir Rp 15 triliun, mengindikasikan aktivitas penjualan yang signifikan.

Saham-saham konglomerat dan blue chip yang selama ini menjadi penopang utama kinerja IHSG, kini kompak rontok dan menjadi pemberat indeks. Padahal, sehari sebelumnya, IHSG sempat mendapatkan angin segar berkat penguatan signifikan saham-saham grup konglomerasi, khususnya Grup Barito milik Prajogo Pangestu. Namun, euforia itu hanya sesaat.

Saham-saham konglomerat yang sepanjang 2023 hingga akhir 2025 menjadi bahan bakar penguatan IHSG dan berkali-kali mendorong indeks mencatatkan rekor harga tertinggi (All Time High/ATH), kini berguguran sejak awal tahun ini. Fenomena ini bukan tanpa sebab. Peringatan keras dari penyedia layanan indeks global terkemuka, seperti MSCI dan FTSE, telah "memecahkan gelembung" saham-saham di Indonesia yang harganya dinilai sudah terlampau mahal dan tidak lagi mencerminkan fundamental logis.

Beberapa saham tersebut bahkan memiliki rasio harga terhadap laba (P/E ratio) lebih dari 500 kali, bahkan ada yang melampaui 1.000 kali. Kondisi ini diperparah dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi, di mana salah satu pengelola dana pasif disebut-sebut tidak dapat bertransaksi di salah satu saham yang masuk indeks bergengsi MSCI.

Faktor-faktor ini secara kolektif membuat penyedia indeks global mempertimbangkan kembali tingkat kelayakan investasi di Bursa Efek Indonesia. Alhasil, regulator, Self-Regulatory Organization (SRO), hingga pemangku kebijakan lain bergerak cepat untuk mengatasi permasalahan ini. Namun, hingga saat ini, seluruh upaya yang diambil hanya mampu mengangkat IHSG secara semu, terlihat dari indeks yang terus tergerus dan kini turun ke level terendah dalam lima tahun.

Pelemahan ini bahkan menempatkan IHSG di bawah rekor harga tertinggi sebelum pandemi yang berada di level 6.693. Laju koreksi tahun ini menandakan bahwa IHSG bukan bergerak maju, melainkan mundur. Nyaris seluruh kenaikan IHSG yang diperoleh sejak ekonomi membaik pasca-pandemi kini menguap begitu saja.

Sebagai catatan, level terendah IHSG pada puncak pandemi ditutup di level 3.937 pada 24 Maret 2020. Kemudian, level tertinggi sepanjang masa (ATH) IHSG dicatatkan pada 20 Januari 2026 di level 9.134. Dalam kurun waktu nyaris enam tahun, IHSG mampu naik 132% dari titik terendah pandemi, bahkan dari posisi tertinggi sebelum pandemi, IHSG mampu naik 36%. Namun, saat ini IHSG masih dalam tekanan tinggi dan sedang merosot tajam secara terus-menerus. Pertanyaan besar di benak investor adalah, sampai kapan IHSG akan anjlok, dan apakah ini sudah mencapai posisi bottom atau malah masih akan lanjut menuju level terendah selama pandemi?

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar