Guncangan Bursa! IHSG Tiba-Tiba Terjun Bebas, Saham Konglo Ambruk!

Guncangan Bursa! IHSG Tiba-Tiba Terjun Bebas, Saham Konglo Ambruk!

Haluannews Ekonomi – Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam secara mendadak pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Setelah sempat memulai perdagangan dengan optimisme, indeks acuan pasar modal Indonesia ini tergelincir 1,60%, melenyapkan hampir seratus poin dan memicu kekhawatiran di kalangan investor.

COLLABMEDIANET

Pembukaan perdagangan sempat memberikan harapan dengan lonjakan 0,19% atau 11,67 poin, membawa indeks ke level 6.207. Namun, euforia tersebut hanya bertahan kurang dari 15 menit sebelum IHSG berbalik arah secara drastis, mendarat di posisi 6.096,28. Dinamika pasar di awal sesi mencatat nilai transaksi sebesar Rp 2,64 triliun, melibatkan perputaran 4,45 miliar saham dalam 334 ribu kali transaksi. Data menunjukkan dominasi tekanan jual, dengan 398 saham melemah, berbanding 149 saham yang menguat, sementara 159 saham lainnya stagnan.

Guncangan Bursa! IHSG Tiba-Tiba Terjun Bebas, Saham Konglo Ambruk!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Penyebab utama pelemahan masif ini tak lain adalah saham-saham emiten konglomerat. Setelah menjadi primadona transaksi dan pendorong utama kenaikan IHSG pada sesi sebelumnya, saham-saham raksasa ini justru serentak mengalami tekanan jual dan menjadi beban utama bagi kinerja indeks. Pergerakan ini mengindikasikan adanya pergeseran sentimen yang signifikan di pasar.

Sejumlah sentimen dari ranah domestik maupun global turut menyelimuti pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah. Setelah sama-sama menguat pada perdagangan Selasa kemarin, pasar keuangan Indonesia kembali diuji.

Dari dalam negeri, data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global pada Mei 2026 menunjukkan perbaikan ke angka 50,0, naik dari 49,1 pada April 2026. Indikasi pemulihan ini terdorong oleh revitalisasi permintaan domestik, dengan pesanan baru tumbuh untuk bulan kedua berturut-turut pada laju tercepat sejak Februari. Namun, kinerja pasar ekspor masih menjadi sektor yang menunjukkan kerentanan, di mana pesanan dari luar negeri terkontraksi selama tiga bulan berturut-turut dan mencatat penurunan terdalam sejak Agustus 2021, imbas berlanjutnya gangguan perdagangan akibat konflik di Timur Tengah.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 mencatat surplus US$ 90 juta. Angka ini mengalami penyusutan signifikan dibandingkan catatan pada Maret 2026 yang mencapai US$ 3,32 miliar. Surplus tersebut ditopang oleh nilai ekspor sebesar US$ 25,30 miliar dan impor US$ 25,21 miliar, menandai surplus beruntun selama 72 bulan sejak Mei 2020.

Selain itu, BPS melaporkan inflasi pada Mei 2026 sebesar 0,28% secara bulanan (month to month/mtm), dengan inflasi tahun kalender mencapai 1,35% dan inflasi tahunan 3,08%. Tekanan inflasi yang tercatat dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan itu lebih tinggi dibanding kondisi April 2026 yang mengalami inflasi 0,13% mtm.

Sentimen krusial lainnya datang dari sektor perbankan, di mana jumlah kapasitas pembiayaan yang telah disetujui namun belum dicairkan kepada dunia usaha (undisbursed loan) mencapai Rp 2.527 triliun per Maret 2026. Kondisi ini mengindikasikan kehati-hatian sektor usaha dalam melakukan ekspansi. Wakil Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Nixon Napitupulu menjelaskan bahwa nilai undisbursed loan perbankan memang mengalami kenaikan 7,35% secara tahunan pada Maret 2026, dengan pertumbuhan terbesar terjadi pada kelompok bank besar, sementara bank KBMI 1 dan KBMI 2 justru mengalami penurunan.

Di kancah global, bursa saham Asia-Pasifik mayoritas dibuka menguat pada perdagangan Rabu (3/6/2026), bahkan indeks utama Jepang mencetak rekor tertinggi baru. Investor cenderung mengesampingkan ketidakpastian terkait negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik di Timur Tengah. Namun, sentimen pasar tetap diselimuti bayang-bayang eskalasi ketegangan antara Washington dan Teheran, menyusul pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menyebut Iran telah menempatkan ranjau di sebagian besar wilayah Selat Hormuz dan melakukan serangan terhadap kapal-kapal komersial.

Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 0,91% dan mencetak rekor tertinggi baru, diikuti indeks Topix yang menguat 0,93%. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,32%. Berbeda dengan pasar Jepang dan Australia, kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong menunjukkan pelemahan, diperdagangkan di level 25.853, lebih rendah dari penutupan sebelumnya di 26.038,32. Pasar saham Korea Selatan ditutup karena libur nasional, membuat fokus perdagangan di Asia tertuju pada Jepang, Australia, dan Hong Kong.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah konsisten melanjutkan tren kenaikannya di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik 1,16% menjadi US$94,92 per barel, sedangkan Brent untuk pengiriman Juli diperdagangkan di kisaran US$96 per barel.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar