haluannews.id – Pasar keuangan Amerika Serikat kini tengah dilanda gejolak hebat. Harapan terhadap kecerdasan buatan atau AI yang sempat melambungkan saham teknologi kini diuji, menyusul laporan keuangan raksasa-raksasa teknologi yang memicu pergerakan harga saham tak terduga. Ditambah lagi, tekanan dari pasar obligasi akibat sinyal terbaru Federal Reserve semakin memperkeruh suasana.

Related Post
Data dari The Wall Street Journal menunjukkan, setelah rilis laporan keuangan kuartalan, nasib saham perusahaan teknologi bak dua sisi mata uang. Microsoft mencetak sejarah dengan lonjakan kapitalisasi pasar harian terbesar di AS, sementara Apple harus menelan pil pahit, mencatat penurunan harian terburuknya akibat proyeksi pendapatan yang mengecewakan.

Meskipun optimisme terhadap investasi besar-besaran di infrastruktur AI masih ada, hal itu belum cukup mengangkat pasar secara keseluruhan. Kenaikan imbal hasil obligasi terus membayangi indeks-indeks utama Wall Street, membuat investor semakin selektif. Victoria Fernandez, Chief Market Strategist Crossmark Global Investments, menyoroti bahwa di balik permukaan yang tampak stabil, ketidakpastian besar masih menyelimuti.
Respons investor yang berbeda sangat kentara. Saham Amazon melesat 15% berkat pertumbuhan bisnis komputasi awan yang pesat, sedangkan Meta Platforms anjlok 8% karena proyeksi arus kas bebas negatif. Fernandez menegaskan, pasar kini menuntut bukti nyata pengembalian investasi dari perusahaan yang menghabiskan ratusan miliar dolar untuk AI, bukan sekadar janji pertumbuhan.
Namun, belanja AI yang masif oleh perusahaan-perusahaan raksasa tetap membawa angin segar bagi produsen chip dan pemasok memori. Indeks PHLX Semiconductor sempat menguat tipis, meski secara bulanan masih tertekan. Sepanjang Juli, Nasdaq terkoreksi 3,2%, sementara S&P 500 cenderung datar, menunjukkan volatilitas tersembunyi di sektor teknologi.
Gejolak pasar juga dipicu oleh pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh. Setelah mempertahankan suku bunga, Warsh mengisyaratkan kenaikan suku bunga mungkin tidak diperlukan dalam waktu dekat karena imbal hasil obligasi yang tinggi sudah memperketat kondisi keuangan. Ironisnya, pernyataan ini justru memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham dan obligasi.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun, mencerminkan keraguan investor terhadap komitmen The Fed dalam mengendalikan inflasi. Tekanan berlanjut hingga imbal hasil Treasury 10 tahun mencapai puncak 18 bulan, memicu spekulasi kenaikan suku bunga lebih lanjut. Warsh bahkan dikabarkan mempertimbangkan mengurangi frekuensi rapat kebijakan The Fed, sebuah langkah yang bisa mengubah dinamika pasar.
Kenaikan imbal hasil obligasi yang persisten berpotensi menaikkan biaya pendanaan, memperlambat ekonomi, dan menekan pasar saham. Risiko ini diperparah oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang bisa mendongkrak harga minyak dan inflasi. Pekan ini, perhatian akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS dan laporan keuangan raksasa konsumen seperti McDonald’s dan Walt Disney.
Di tengah semua kekhawatiran, fundamental laba emiten AS masih menjadi penopang. Pertumbuhan laba agregat S&P 500 diperkirakan mencapai 47%, tertinggi dalam lima tahun terakhir, dengan proyeksi laba yang terus direvisi naik. Analis Goldman Sachs optimistis terhadap pertumbuhan pendapatan raksasa teknologi seperti Amazon, Alphabet, Meta, dan Microsoft sebesar 18% per tahun berkat belanja AI. Joseph Zappia dari LVW Advisors menegaskan, ekonomi AS masih sehat dan dalam fase ekspansi, meski fokus pasar terlalu didominasi narasi AI.










Tinggalkan komentar