haluannews.id – Bank Indonesia (BI) akhirnya buka suara terkait penurunan signifikan cadangan devisa negara. Pelaksana Tugas Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan, terkikisnya simpanan devisa Indonesia hingga mencapai US$145 miliar pada akhir Juli 2026 merupakan konsekuensi dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pembayaran kewajiban utang luar negeri pemerintah.

Related Post
Angka tersebut menunjukkan penurunan drastis sebesar US$11 miliar dari posisi puncaknya yang sempat menyentuh US$156,5 miliar pada akhir Desember 2025. Meskipun demikian, Destry menegaskan bahwa level US$145 miliar masih tergolong aman dan terkendali bagi perekonomian nasional.

"Saat ini cadangan devisa kita berada di angka US$145 miliar. Angka ini, termasuk untuk keperluan stabilisasi nilai tukar dan pelunasan utang luar negeri pemerintah yang juga dikelola di BI, kami pastikan masih relatif aman," ujar Destry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Keyakinan Destry didasarkan pada perhitungan bahwa cadangan devisa yang ada saat ini masih sanggup membiayai kebutuhan impor hingga 5,4 kali lipat. Angka ini jauh melampaui standar acuan internasional yang mensyaratkan kecukupan cadangan devisa minimal untuk tiga bulan impor dan pembayaran utang.










Tinggalkan komentar