Geger Bursa! Rosan Ungkap Desakan Asing: Data Saham 1% Wajib Dibuka!

Geger Bursa! Rosan Ungkap Desakan Asing: Data Saham 1% Wajib Dibuka!

Haluannews Ekonomi – Jakarta – CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Rosan Roeslani baru-baru ini membuat pernyataan mengejutkan mengenai tuntutan investor asing terhadap Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam sebuah diskusi di Main Hall BEI, Minggu (1/2/2026), Rosan mengungkapkan bahwa para pemodal global mendesak adanya transparansi data investor yang lebih luas, khususnya untuk kepemilikan saham di bawah ambang batas yang berlaku saat ini.

COLLABMEDIANET

Rosan menjelaskan, meskipun reformasi yang digulirkan regulator bursa, termasuk rencana peningkatan batas free float saham publik dari 7,5% menjadi 15%, telah mendapat apresiasi, ada satu poin krusial yang masih menjadi sorotan. "Saat ini, data investor yang wajib dibuka adalah bagi mereka yang memiliki saham di atas 5%. Investor asing menginginkan agar ambang batas ini diturunkan, tidak hanya terpaku pada angka 5%," tegas Rosan.

Geger Bursa! Rosan Ungkap Desakan Asing: Data Saham 1% Wajib Dibuka!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 4 Tahun 2024 tentang Laporan Kepemilikan atau Setiap Perubahan Kepemilikan Saham Perusahaan Terbuka dan Laporan Aktivitas Menjaminkan Saham Perusahaan Terbuka, kewajiban pelaporan kepemilikan saham hanya berlaku bagi pihak yang menguasai minimal 5% saham dengan hak suara. Inilah celah yang ingin dipersempit oleh investor global.

Rosan mencontohkan praktik di beberapa negara maju, seperti India yang telah menerapkan keterbukaan data investor hingga ambang batas 1%. Negara lain juga ada yang berada di kisaran 2%. "Fokus kita selama ini memang banyak pada free float ke pasar, yang kini direncanakan 15%. Namun, investor asing menginginkan faktor keterbukaan data ini diturunkan, setidaknya setara dengan standar internasional," jelas Rosan, mengutip aspirasi para pemodal.

Inisiatif penurunan ambang batas keterbukaan data investor hingga rentang 1% atau 2% ini, menurut Rosan, telah dibahas dengan OJK dan BEI. Tujuannya sangat strategis: memberantas praktik "penciptaan harga semu" atau manipulasi pasar. "Jika data investor lebih transparan, aksi-aksi yang bertujuan menciptakan harga artifisial akan sangat sulit dilakukan. Setiap tindakan mencurigakan akan lebih mudah terdeteksi," papar Rosan, menekankan pentingnya langkah ini.

Menteri Investasi dan Kepala BKPM tersebut optimis bahwa langkah ini akan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia. Ia juga mencatat respons positif investor asing terhadap berbagai perbaikan yang telah dilakukan regulator. "Dengan segala upaya ini, Insya Allah, saya yakin pasar modal kita akan rebound dan beroperasi dengan lebih baik mulai Senin dan hari-hari berikutnya," tutup Rosan, penuh keyakinan.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar