Rupiah Loyo Dolar AS Perkasa Apa Kata Bank Indonesia

Rupiah Loyo Dolar AS Perkasa Apa Kata Bank Indonesia

haluannews.id – Mata uang kebanggaan Indonesia, rupiah, harus mengakui keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (22/9/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah antisipasi pasar yang memuncak menanti putusan penting dari Bank Indonesia (BI) terkait suku bunga acuan.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan data terkini dari Refinitiv, rupiah terpantau anjlok 0,14%, mengakhiri hari di level Rp17.850 per dolar AS. Meskipun demikian, posisi penutupan ini sedikit membaik dibanding saat pembukaan, di mana rupiah sempat terdepresiasi lebih dalam, yakni 0,20% ke angka Rp17.860 per dolar AS. Pergerakan rupiah sepanjang hari cukup fluktuatif, bahkan sempat menyentuh titik terendah Rp17.896 sebelum akhirnya berhasil memangkas pelemahannya hingga 46 poin.

Rupiah Loyo Dolar AS Perkasa Apa Kata Bank Indonesia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, menunjukkan tren penguatan. Pada pukul 15.00 WIB, DXY tercatat melesat 0,05% ke posisi 100,481, menambah tekanan bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Fokus utama pasar kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung dua hari, mulai Selasa hingga Rabu (22-23 September 2026). Pengumuman mengenai suku bunga acuan dijadwalkan akan dirilis esok hari. Mayoritas pelaku pasar, berdasarkan hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh haluannews.id terhadap 11 institusi keuangan, memprediksi BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Hanya tiga responden yang memperkirakan adanya kenaikan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,00%.

Jika skenario penahanan suku bunga ini terwujud, maka ini akan menjadi kali ketiga secara beruntun BI mempertahankan suku bunga acuannya, setelah sebelumnya juga ditahan pada RDG Juli dan Agustus. Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menyoroti bahwa prioritas utama BI saat ini adalah menjaga stabilitas pasar keuangan, khususnya nilai tukar rupiah. Menurutnya, BI masih memiliki ruang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi melalui instrumen kebijakan lain, seperti pelonggaran kebijakan makroprudensial dan peningkatan efektivitas sistem pembayaran nasional, tanpa harus mengubah suku bunga acuan.

Selain faktor domestik, gejolak di pasar global juga turut mewarnai pergerakan rupiah. Dolar AS masih mendapatkan dorongan kuat menyusul keputusan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang telah menaikkan suku bunga dan memberikan sinyal kuat adanya potensi pengetatan kebijakan moneter lanjutan. Data dari CME FedWatch bahkan menunjukkan probabilitas sekitar 55% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada bulan Oktober, sebuah angka yang meningkat signifikan dari sekitar 43% seminggu sebelumnya. Dinamika ini tentu saja menambah beban bagi rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar