haluannews.id – Kabar gembira datang dari dunia usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Sebanyak 23 pelaku usaha kecil dan menengah kini tengah bersiap untuk melakukan lompatan besar dengan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah ini menjadi sinyal positif bagi penguatan pasar modal tanah air melalui kehadiran emiten-emiten baru yang berasal dari sektor riil.

Related Post
Para pelaku usaha ini bukanlah sembarang UKM. Mereka merupakan peserta terpilih dalam program pendampingan intensif atau coaching yang diinisiasi oleh Kementerian UMKM. Program ini dirancang khusus untuk membekali para pengusaha agar mampu menempuh jalur penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) dengan standar yang telah ditetapkan oleh otoritas bursa.

Deputi Kementerian UMKM, Bagus Rachman, mengungkapkan bahwa hingga Juli 2025, tercatat sudah ada 42 emiten yang menempati Papan Akselerasi di BEI. Kehadiran 23 UKM yang sedang dalam proses pendampingan ini diharapkan akan semakin memperkaya komposisi emiten di bursa. Menariknya, sektor makanan dan minuman (food and beverage) menjadi primadona dalam gelombang ini. Berdasarkan data yang dihimpun, sekitar 40 persen dari total peserta pendampingan berasal dari sektor kuliner tersebut.
Selain sektor F&B, industri fesyen juga menunjukkan taringnya dengan menyumbang sekitar 20 persen dari jumlah peserta. Sisanya, tersebar di berbagai sektor usaha lainnya yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi.
Program pendampingan ini merupakan bagian dari inisiatif strategis bertajuk Rise to IPO melalui peluncuran Go Public Academy for Small and Medium Enterprises. Kerja sama antara BEI dan Kementerian UMKM ini bertujuan untuk mendorong UMKM agar "naik kelas", dari yang semula hanya skala lokal menjadi perusahaan terbuka yang profesional dan transparan.
Bagus menjelaskan bahwa proses seleksi dilakukan dengan sangat ketat. Meskipun terdapat ratusan perusahaan yang mendaftar, hanya 23 perusahaan yang berhasil lolos tahap verifikasi dan seleksi untuk masuk ke dalam akademi ini. "Kami memberikan pendampingan agar mereka benar-benar siap melantai di bursa. Melalui akademi ini, prosesnya menjadi lebih presisi dengan tujuh tahapan sistematis," ujar Bagus saat ditemui di Gedung BEI, Senin (2/11/2026).
Ketujuh tahapan tersebut mencakup persiapan fundamental bisnis hingga penyusunan prospektus yang akurat. Salah satu syarat krusial yang harus dipenuhi adalah kewajiban menjalani audit laporan keuangan agar kepercayaan investor dapat terjaga.
Pemerintah menegaskan bahwa program ini tidak hanya sekadar mengejar angka jumlah IPO. Fokus utamanya adalah kualitas dan kesiapan perusahaan dalam mengakses pasar modal. "IPO adalah pilihan bagi perusahaan. Yang kami kejar adalah kualitas, memastikan mereka benar-benar siap, baik secara operasional maupun finansial, untuk mengakses pasar modal," tambah Bagus.
Dengan adanya program ini, diharapkan pasar modal Indonesia semakin inklusif dan tidak hanya didominasi oleh perusahaan-perusahaan raksasa, tetapi juga memberikan ruang bagi geliat ekonomi kreatif dan UMKM untuk tumbuh secara berkelanjutan.










Tinggalkan komentar