Pasar Modal RI Mulai Bangkit Kembali

Pasar Modal RI Mulai Bangkit Kembali

haluannews.id – Kinerja pasar modal Indonesia menunjukkan tren pemulihan yang positif meskipun harus menghadapi badai ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi. Berdasarkan laporan terbaru, pasar modal tanah air perlahan mulai menunjukkan taringnya kembali melalui penguatan indeks dan pertumbuhan basis investor yang signifikan.

COLLABMEDIANET

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa pemulihan ini terjadi secara bertahap. Salah satu indikator utama keberhasilan ini terlihat dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menyentuh level 6.071 pada akhir kuartal III tahun 2026. Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan sebesar 7,83% secara kuartalan (qoq), dengan momentum penguatan yang paling terasa pada bulan Juli dan Agustus 2026.

Pasar Modal RI Mulai Bangkit Kembali
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Pasar modal kita sedang dalam fase pemulihan secara bertahap di tengah situasi global yang masih penuh ketidakpastian," ujar Friderica dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Selasa (3/11/2026).

Namun, perjalanan menuju stabilitas penuh tidaklah tanpa hambatan. Memasuki bulan Oktober 2026, pasar sempat mengalami tekanan hebat yang memicu koreksi pada IHSG. Penurunan ini dipicu oleh pengumuman konsultasi dari MSCI yang berdampak pada sentimen pasar. Hingga penutupan perdagangan pada 30 Oktober 2026, IHSG tercatat berada di level 5.057, mengalami penurunan sebesar 16,7% secara bulanan (mtd).

Meski pasar saham mengalami volatilitas, sektor pengelolaan investasi justru menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Data per 27 Oktober 2026 menunjukkan nilai aktiva bersih (NAB) reksadana mencapai Rp640,05 triliun, tumbuh tipis 0,44% secara mtd. Menariknya, minat masyarakat terhadap reksadana tetap terjaga dengan catatan net subscription sebesar Rp14,11 triliun sepanjang Oktober 2026. Hal ini mengindikasikan bahwa investor masih percaya pada instrumen reksadana sebagai alternatif di tengah fluktuasi harga saham.

Dari sisi korporasi, antusiasme untuk menghimpun dana di pasar modal juga tetap tinggi. Hingga 28 Oktober 2026, total penghimpunan dana sepanjang tahun berjalan (ytd) telah menyentuh angka Rp202 triliun. Sebagian besar dana tersebut berasal dari instrumen utang atau sukuk yang mencatatkan nilai sebesar Rp50,43 triliun.

Pertumbuhan ini juga didukung oleh basis investor yang semakin luas. Jumlah investor dengan Single Investor Identification (SID) telah menembus angka 33,36 juta per 26 Oktober 2026, melonjak drastis sebesar 63,94% secara ytd. Selain itu, kesehatan fundamental perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga dinilai sangat solid, di mana sebanyak 73,54% emiten berhasil membukukan laba dalam laporan keuangan mereka. Kondisi ini menjadi modal kuat bagi pasar modal Indonesia untuk terus tumbuh di masa depan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar