Rupiah Terpuruk ke Rp18145 Ini Penyebabnya

Rupiah Terpuruk ke Rp18145 Ini Penyebabnya

haluannews.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tengah mengalami tekanan hebat yang membuat mata uang Garuda merosot tajam. Kondisi ini memicu kekhawatiran di pasar keuangan domestater, mengingat fluktuasi yang terjadi cukup drastis dalam waktu singkat. Berdasarkan data terbaru, posisi rupiah kini harus bertengger di level Rp18.145 per dolar AS, sebuah angka yang cukup mengkhawatirkan bagi stabilitas ekonomi nasional.

COLLABMEDIANET

Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memberikan penjelasan mendalam mengenai fenomena pelemahan ini. Dalam keterangannya, Destry mengungkapkan bahwa sebenarnya rupiah sempat menunjukkan tren positif dan mampu menguat pada akhir kuartal ketiga tahun 2026. Saat itu, kurs rupiah sempat menyentuh level Rp17.830 per dolar AS, sebuah posisi yang memberikan optimisme bagi pelaku pasar.

Rupiah Terpuruk ke Rp18145 Ini Penyebabnya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, optimisme tersebut sirna saat memasuki bulan Oktober. Tekanan ekonomi global yang tidak menentu membuat rupiah terus tergerus hingga mencapai titik terendahnya pada 2 November 2026 di angka Rp18.145 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan periode penguatan di bulan September yang berada di level Rp17.870, maka terjadi depresiasi yang cukup signifikan.

Dalam konferensi pers hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Kuartal III-2026 yang digelar di Jakarta, Selasa (3/11/2026), Destry menegaskan bahwa penyebab utama dari merosotnya nilai tukar ini bukanlah berasal dari faktor domestik, melainkan murni karena tekanan eksternal yang sangat kuat.

"Pelemahan ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, kebijakan moneter Amerika Serikat yang semakin ketat, serta sentimen investor global terhadap aset-aset di negara berkembang," ujar Destry menjelaskan situasi tersebut.

Menurutnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menciptakan ketidakpastian global yang membuat investor cenderung menarik modal mereka dari pasar negara berkembang (emerging markets) dan memindahkannya ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven), seperti dolar AS. Hal ini secara otomatis meningkatkan permintaan terhadap dolar dan menekan nilai tukar mata uang lainnya, termasuk rupiah.

Selain itu, kebijakan moneter ketat yang diambil oleh bank sentral Amerika Serikat turut memperparah keadaan. Pengetatan ini membuat aliran modal keluar dari Indonesia semakin kencang. Kondisi ini diperparah dengan kecenderungan investor global yang kini lebih berhati-hati dalam menempatkan dana mereka di negara-negara berkembang karena risiko volatilitas yang tinggi.

Pihak Bank Indonesia terus memantau perkembangan situasi ini secara ketat. Melalui kebijakan moneter yang terukur, BI berupaya menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak semakin liar, sembari tetap memperhatikan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah badai ketidakpastian global yang sedang melanda dunia.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar