Dolar Terancam! Ekonom Ungkap Pergeseran Yuan di Perdagangan RI

Dolar Terancam! Ekonom Ungkap Pergeseran Yuan di Perdagangan RI

Haluannews Ekonomi – Jakarta – Dominasi dolar Amerika Serikat (AS) di kancah perdagangan internasional Indonesia kini menghadapi tantangan serius dari mata uang Tiongkok, Yuan. Fenomena ini disoroti oleh Kepala Ekonom PT Bank Central Asia, David E. Sumual, yang mengingatkan akan potensi risiko pengetatan likuiditas Yuan seiring dengan peningkatan penggunaannya dalam transaksi bilateral Indonesia.

COLLABMEDIANET

Dalam forum Central Banking Forum 2026 yang bertema "Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global" di Jakarta, Senin (13/4/2026), David menjelaskan bahwa dinamika perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok telah bergeser signifikan. Data menunjukkan ekspor Indonesia ke Tiongkok melonjak 24%, sementara impor dari Tiongkok juga mengalami kenaikan impresif sebesar 37%.

Dolar Terancam! Ekonom Ungkap Pergeseran Yuan di Perdagangan RI
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Terlihat jelas bahwa Yuan kini memegang peranan penting di dalam negeri. Ketika kita mengekspor ke Tiongkok, sebagian besar pengusaha kita masih meminta pembayaran dalam dolar. Namun, saat kita mengimpor barang dari sana, pihak Tiongkok justru meminta pembayaran dalam Yuan," ungkap David. Situasi asimetris ini, menurutnya, berpotensi memicu masalah likuiditas Yuan di pasar domestik jika tren ini terus berlanjut dalam jangka panjang.

Kekhawatiran akan pengetatan likuiditas Yuan ini bukan tanpa alasan. Jika pasokan Yuan di Indonesia tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan impor, hal ini dapat menghambat kelancaran perdagangan dan bahkan memengaruhi stabilitas nilai tukar. David menekankan bahwa diversifikasi mata uang dalam perdagangan internasional adalah keniscayaan, namun perlu diimbangi dengan strategi pengelolaan likuiditas yang matang.

Meski demikian, David menyambut baik inisiatif Kementerian Keuangan yang proaktif dalam mengatasi potensi tantangan ini. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Keuangan, telah mengambil langkah strategis dengan menerbitkan DimSum Bonds. Instrumen pembiayaan ini dirancang khusus untuk mengisi likuiditas Yuan di pasar domestik, sekaligus membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.

Sebagai informasi, penerbitan DimSum Bond dilakukan pada Oktober 2025 dengan target penghimpunan dana sebesar 6 miliar Yuan, setara dengan sekitar Rp14 triliun. Obligasi ini ditawarkan dalam dua tenor berbeda: 3,5 miliar Yuan untuk tenor 5 tahun dengan imbal hasil 2,5%, dan 2,5 miliar Yuan untuk tenor 10 tahun dengan imbal hasil 2,9%.

Respons pasar terhadap DimSum Bond Indonesia terbilang sangat positif. Total permintaan dari investor global mencapai 18 miliar Yuan, atau tiga kali lipat dari jumlah yang diterbitkan. Tingginya minat ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia serta potensi Yuan sebagai mata uang yang semakin relevan dalam ekosistem keuangan global.

Perkembangan ini menggarisbawahi pergeseran lanskap keuangan global di mana mata uang non-dolar, khususnya Yuan, mulai menancapkan pengaruhnya. Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan ekonomi melalui diversifikasi mata uang dan instrumen keuangan yang inovatif, sebagaimana dilaporkan oleh Haluannews.id.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar