Dari Ponsel ke Pakan Ternak: Strategi Gila Emiten TRIO Hadapi Badai Utang!

Dari Ponsel ke Pakan Ternak: Strategi Gila Emiten TRIO Hadapi Badai Utang!

Haluannews Ekonomi – Emiten yang sebelumnya dikenal sebagai raksasa ritel telekomunikasi, PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO), kini tengah merancang sebuah manuver bisnis yang sangat drastis dan mengejutkan pasar. Perusahaan yang identik dengan penjualan telepon seluler ini berencana untuk melakukan diversifikasi portofolio secara fundamental, merambah ke sektor perdagangan protein untuk industri pakan ternak serta produk perawatan pribadi (personal care).

COLLABMEDIANET

Langkah strategis ini, sebagaimana diungkapkan manajemen kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), merupakan respons terhadap dinamika industri telepon seluler yang semakin sengit dan kompetitif. TRIO melihat adanya peluang signifikan di segmen pasar yang berkaitan langsung dengan kebutuhan konsumen sehari-hari dan tren produk yang lebih berkelanjutan serta ramah lingkungan. Bisnis perdagangan protein yang dimaksud mencakup pasokan bahan baku protein untuk pakan ternak, termasuk yang diolah dengan teknologi Black Soldier Fly (BSF). Perseroan menilai model bisnis perdagangan ini masih selaras dengan kompetensi inti yang mereka miliki saat ini.

Dari Ponsel ke Pakan Ternak: Strategi Gila Emiten TRIO Hadapi Badai Utang!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pengembangan lini usaha baru ini akan dilaksanakan secara bertahap melalui entitas anak perusahaan, dengan mempertimbangkan kondisi pasar yang berlaku dan kapasitas permodalan perseroan. TRIO memperkirakan fase uji coba bisnis baru ini dapat dimulai pada kuartal II-2026, diikuti dengan komersialisasi terbatas pada paruh kedua tahun yang sama. "Perseroan berharap dalam jangka menengah dapat memperoleh sumber kontribusi pendapatan tambahan yang signifikan terhadap kinerja, sekaligus memperkuat fondasi keberlanjutan usaha di masa depan," demikian kutipan dari keterbukaan informasi yang diterima Haluannews.id pada Jumat (6/3/2026).

Terjebak dalam Pusaran Rugi dan Utang Jumbo

Di balik ambisi transformasi bisnis yang berani ini, TRIO masih menghadapi tantangan finansial yang tidak ringan. Kinerja keuangan perseroan belum menunjukkan perbaikan signifikan. Per September 2025, TRIO membukukan kerugian bersih yang membengkak menjadi Rp 48,74 miliar, meningkat drastis dari kerugian Rp 26,62 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, TRIO juga masih berjuang menuntaskan restrukturisasi utang dengan perbankan. Hingga saat ini, komunikasi intensif terus dilakukan dengan kreditur utama, yakni Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Mandiri, terkait proses evaluasi restrukturisasi. Per 31 Desember 2025, total utang pokok perseroan mencapai sekitar Rp 1,05 triliun kepada BNI dan Rp 210,17 miliar kepada Bank Mandiri. Angka liabilitas yang fantastis ini jauh melampaui total aset perusahaan yang tercatat hanya Rp 64,72 miliar per September 2025, mengindikasikan tekanan likuiditas yang sangat besar.

Manajemen menjelaskan bahwa proses restrukturisasi masih dalam tahap evaluasi internal oleh masing-masing bank. Meskipun demikian, perseroan tetap berkomitmen untuk melakukan pembayaran cicilan pokok utang kepada kreditur sesuai dengan kemampuan keuangan yang ada.

Untuk mengatasi tekanan ini, TRIO juga berupaya meningkatkan penjualan melalui penguatan kanal pemasaran daring, seperti penjualan langsung (live sales), konten interaktif, serta integrasi penjualan online dan offline. Di sisi lain, efisiensi biaya operasional juga menjadi fokus utama, termasuk penyederhanaan proses kerja melalui pemanfaatan teknologi serta pengendalian biaya pemasaran dan operasional. Perbaikan pengelolaan rantai pasok, menjaga komunikasi dengan pemasok, penambahan merek secara bertahap, serta pengelolaan persediaan yang lebih selektif dengan fokus pada produk berputar cepat dan margin tinggi juga menjadi bagian dari strategi pemulihan.

Adapun per 31 Januari 2026, salah satu penerima manfaat akhir TRIO adalah Sugiono Wiyono Sugialam, yang mengendalikan TRIO secara tidak langsung melalui PT Tigadari Fiesta (8,69%) dan Polaris Ltd (8,22%). Sementara itu, PT Sukses Perdana Prima tercatat sebagai pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 38,25%. Data per 27 Februari 2026 juga menunjukkan Huawei Tech Investment menggenggam 1,2% saham TRIO.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar