Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia menunjukkan performa impresif pada Rabu (15/4/2026), di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan tren penguatan. Indeks acuan ini menutup sesi pertama perdagangan dengan kenaikan signifikan 0,44% atau setara 33,62 poin, kembali bertengger di level psikologis 7.709,56.

Related Post
Aktivitas perdagangan terpantau cukup ramai, dengan total nilai transaksi mencapai Rp 13,63 miliar hingga jeda siang. Sebanyak 33,13 miliar lembar saham berpindah tangan melalui 2,01 juta kali transaksi. Lonjakan ini turut mendongkrak kapitalisasi pasar bursa, yang kini menyentuh angka Rp 13.752 triliun.

Penguatan IHSG didukung oleh mayoritas sektor, di mana sektor industri, konsumer primer, dan energi memimpin kenaikan. Namun, tidak semua sektor bernasib sama; sektor infrastruktur, konsumer non-primer, dan finansial justru mengalami koreksi terdalam. Sejumlah emiten dari grup konglomerat turut berperan sebagai motor penggerak utama. Sepuluh saham yang memberikan kontribusi poin indeks terbesar meliputi DSSA, ASII, MDKA, MORA, INKP, ADII, IMPC, BNBR, BUVA, dan GOTO.
Pergerakan positif IHSG ini selaras dengan tren di bursa-bursa regional Asia, yang juga melanjutkan reli. Sentimen positif ini sebagian besar dipicu oleh harapan akan tercapainya gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Presiden AS Donald Trump, pada Selasa, mengindikasikan kemungkinan dimulainya kembali pembicaraan damai di Pakistan dalam dua hari ke depan, menyusul kegagalan negosiasi sebelumnya yang mendorong Washington memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Sumber dari kawasan Teluk, Pakistan, dan Iran mengonfirmasi potensi kembalinya tim negosiasi AS-Iran ke Pakistan pekan ini, meskipun tanggal pasti belum ditetapkan. Pernyataan Trump kepada New York Post, "Anda sebaiknya tetap berada di sana, karena sesuatu bisa terjadi dalam dua hari ke depan, dan kami lebih condong ke sana," memperkuat optimisme pasar. Meskipun blokade AS sempat memicu respons keras dari Teheran, sinyal berlanjutnya jalur diplomasi berhasil meredakan ketegangan di pasar komoditas, terlihat dari harga minyak acuan yang turun di bawah US$100 pada Selasa.
Di tengah optimisme jangka pendek, pasar global tetap dihadapkan pada ketidakpastian mengenai prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Kekhawatiran akan suku bunga yang ‘lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama’ (higher for longer) terus membayangi, dipicu oleh konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap harga minyak global. Menanggapi situasi ini, Dana Moneter Internasional (IMF) telah merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global.
Dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2026, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya akan mencapai 3,1% tahun ini, turun dari proyeksi sebelumnya 3,3% pada Januari 2026. Revisi ini tak lepas dari eskalasi konflik pasca serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu respons Teheran dan memperluas gejolak di kawasan.
IMF menyajikan beberapa skenario, mulai dari yang ringan, buruk, hingga parah. Dalam skenario terburuk, dunia di ambang resesi, dengan harga minyak diproyeksikan melonjak rata-rata US$110 per barel pada 2026 dan US$125 pada 2027, yang berpotensi menyeret pertumbuhan global hingga ke level 2,0%. Skenario dasar IMF mengasumsikan konflik yang relatif singkat dengan harga minyak stabil di rata-rata US$82 per barel pada 2026. Namun, Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas memperingatkan bahwa kondisi terkini cenderung bergerak menuju skenario yang lebih pesimistis.
Dampak paling signifikan diperkirakan akan terasa di negara-negara berkembang, khususnya di kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah, di mana pertumbuhan diproyeksikan melambat drastis menjadi 1,9% pada 2026. Melihat proyeksi untuk ekonomi-ekonomi besar, Amerika Serikat diperkirakan tumbuh 2,3%, Zona Euro 1,1%, Tiongkok akan berekspansi 4,4%, dan India memimpin dengan 6,5%. Kabar baiknya, bagi Indonesia, IMF tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi di angka 5,0%, menunjukkan ketahanan ekonomi domestik di tengah gejolak global.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar