haluannews.id – Gubernur Bank Indonesia BI Perry Warjiyo membeberkan optimisme bank sentral terhadap penguatan nilai tukar rupiah yang diprediksi akan menembus level di bawah Rp18.000 per dolar AS pada tahun 2027. Proyeksi ini sejalan dengan dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal KEM PPKF Tahun Anggaran 2027 yang menargetkan rupiah bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS. Perry menjelaskan lima pilar utama yang menjadi dasar keyakinan tersebut dalam sebuah rapat kerja baru-baru ini.

Related Post
Pilar pertama adalah proyeksi pemulihan ekonomi global yang signifikan. Perry menjelaskan bahwa perbaikan kondisi ekonomi dunia akan meredakan gejolak dan meningkatkan persepsi positif terhadap risiko investasi. Ini diharapkan mendorong arus portofolio yang sehat, menjaga neraca pembayaran tetap kuat, serta menekan defisit transaksi berjalan. Selain itu, daya tarik imbal hasil investasi di Indonesia akan tetap tinggi, didukung oleh pasar keuangan yang terus berkembang.

Kedua, penguatan rupiah akan ditopang oleh kebijakan pemerintah yang inovatif. Ini mencakup penerapan aturan baru terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam DHE SDA serta kebijakan ekspor komoditas satu pintu melalui PT Danatara Sumberdaya Indonesia DSI. Perry menegaskan bahwa langkah-langkah ini tidak hanya akan mengerek penerimaan negara untuk membiayai pertumbuhan ekonomi, tetapi juga secara substansial memperkuat cadangan devisa.
Lebih lanjut, Perry menekankan komitmen BI untuk memperkokoh stabilitas dan nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen strategis. Ini termasuk memastikan ketersediaan devisa yang memadai, serta aktif melakukan transaksi forward baik di pasar domestik maupun internasional. Bank sentral juga akan berkoordinasi erat dengan pemerintah guna menjaga daya tarik imbal hasil Surat Berharga Negara SBN, demi menarik aliran modal asing yang berkelanjutan ke Indonesia. Selain itu, BI berencana memperluas instrumen dan transaksi di pasar valuta asing dalam negeri, sembari memastikan kecukupan valuta asing di sektor perbankan dan cadangan devisa negara.
Terakhir, BI akan terus menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi melalui implementasi kebijakan moneter dan makroprudensial yang tepat sasaran. Perry juga menyoroti koordinasi yang solid antara BI dan Kementerian Keuangan. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, meningkatkan daya tarik imbal hasil guna mendorong investasi modal asing, serta menjaga likuiditas yang cukup di pasar uang dan perbankan. Dengan strategi komprehensif ini, BI optimis rupiah akan menunjukkan performa prima di tahun-tahun mendatang.










Tinggalkan komentar