Haluannews Ekonomi – Jakarta – Sektor ritel Indonesia menunjukkan geliat positif yang signifikan pada awal tahun 2026. Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Februari 2026 melonjak 6,5% secara tahunan (yoy), sebuah capaian yang melampaui pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 5,7% (yoy) dan memberikan sinyal optimisme bagi perekonomian nasional.

Related Post
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, mengemukakan bahwa pertumbuhan impresif ini didorong oleh kinerja cemerlang dari beberapa kelompok utama. "Peningkatan penjualan pada mayoritas kelompok, terutama Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Subkelompok Sandang, menjadi motor penggerak utama," jelas Denny dalam rilis resminya pada Senin (14/4/2026) yang diterima Haluannews.id.

Secara bulanan, tren penjualan eceran juga menunjukkan pembalikan positif yang kuat. Setelah mengalami fase kontraksi sebesar 2,7% pada Januari, penjualan Februari 2026 berhasil tumbuh 4,1% secara bulanan (mtm). Kenaikan ini, menurut Denny, sejalan dengan peningkatan permintaan masyarakat menjelang periode Ramadan, terutama pada kelompok-kelompok yang disebutkan di atas.
Namun, di tengah euforia pertumbuhan ritel, BI juga menyoroti potensi tekanan inflasi ke depan. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk tiga bulan ke depan, yakni Mei 2026, diproyeksikan meningkat menjadi 157,4, lebih tinggi dibandingkan IEH April 2026 sebesar 153,9. Kenaikan ini disinyalir didorong oleh kenaikan harga bahan baku. Sementara itu, untuk enam bulan ke depan, yaitu Agustus 2026, IEH diprakirakan relatif stabil di angka 157,2, sedikit bergeser dari 157,1 pada Juli 2026.
Prospek kinerja penjualan eceran untuk Maret 2026 juga tetap cerah. BI memperkirakan IPR Maret akan tetap tumbuh sebesar 2,4% (yoy). "Kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan penjualan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi," kata Denny.
Secara bulanan, Denny menuturkan penjualan eceran pada Maret 2026 diprakirakan tumbuh lebih kuat lagi, mencapai 9,3% (mtm), melampaui pertumbuhan Februari 2026 yang sebesar 4,1% (mtm). Peningkatan ini didorong oleh kinerja mayoritas kelompok, terutama Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Subkelompok Sandang, sejalan dengan lonjakan permintaan rumah tangga selama periode perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Fenomena ini mengindikasikan ketahanan konsumsi domestik yang kuat, terutama didukung oleh momen-momen keagamaan yang secara tradisional memicu peningkatan belanja masyarakat. Ini menjadi fondasi penting bagi stabilitas dan pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar