Badai Geopolitik Hantam IHSG: Anjlok 3%, Sentuh 7.100-an!

Badai Geopolitik Hantam IHSG: Anjlok 3%, Sentuh 7.100-an!

Haluannews Ekonomi – Pasar saham Indonesia dilanda sentimen negatif yang kuat pada Jumat (13/3/2026), menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam. Menjelang penutupan sesi kedua perdagangan, tepatnya pukul 15.20 WIB, IHSG tercatat anjlok 3% dan mengakhiri hari di level 7.141,46. Penurunan signifikan ini menggambarkan kekhawatiran mendalam di kalangan investor terhadap dinamika ekonomi global dan ketegangan geopolitik.

COLLABMEDIANET

Aktivitas perdagangan hari itu menunjukkan dominasi tekanan jual yang masif. Sebanyak 671 saham terpantau melemah, jauh melampaui 103 saham yang berhasil menguat, sementara 184 saham lainnya stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 10,98 triliun, melibatkan perputaran 21,51 miliar saham dalam 1,33 juta kali transaksi. Angka-angka ini mengindikasikan aksi jual yang luas di seluruh sektor.

Badai Geopolitik Hantam IHSG: Anjlok 3%, Sentuh 7.100-an!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sejak pembukaan sesi pertama, IHSG sudah menunjukkan tren negatif, terkoreksi 1,81% atau 133,18 poin ke level 7.228,94. Volatilitas tinggi yang terjadi sepanjang hari menegaskan ketidakpastian yang menyelimuti bursa.

Dari sisi saham dengan nilai transaksi tertinggi, Bumi Resources (BUMI) memimpin di pasar reguler. Namun, secara keseluruhan, XLSmart Telecom Sejahtera (EXCL) mencatat nilai transaksi paling jumbo, mencapai Rp 800 miliar, yang sebagian besar terjadi di pasar negosiasi.

Analisis sektor berdasarkan data Refinitiv menunjukkan bahwa seluruh sektor berada di zona merah, mencerminkan tekanan jual yang merata. Sektor bahan baku menjadi yang paling terpukul dengan penurunan 2,94%, diikuti oleh sektor utilitas yang terkoreksi 2,78%, dan sektor konsumer non-primer yang anjlok 2,76%.

Beberapa saham berkapitalisasi besar turut menjadi penekan utama pergerakan IHSG. Amman Mineral (AMMN) menyumbang bobot negatif sebesar 12,89 indeks poin, disusul oleh Bank Mandiri (BMRI) dengan 10,87 indeks poin, dan Barito Renewables Energy (BREN) yang menyeret IHSG ke bawah sebesar 7,4 indeks poin.

Kecemasan pelaku pasar global terhadap pasokan minyak menjadi faktor dominan di balik gejolak ini. Konflik yang berkepanjangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran serius. Harga minyak mentah telah melonjak drastis lebih dari 38% dalam kurun waktu kurang dari dua pekan. Minyak mentah Brent tercatat menembus US$ 100,72 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$ 95,37 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh serangan terhadap dua kapal tanker dan fasilitas pelabuhan minyak di perairan Irak, yang meningkatkan risiko keamanan navigasi di Selat Hormuz. Militer Iran bahkan mengancam bahwa harga minyak dapat melambung hingga US$ 200 per barel jika situasi memburuk.

Di tengah eskalasi militer yang dilancarkan AS dan Israel, laporan intelijen AS mengindikasikan bahwa struktur kepemimpinan Iran tetap utuh dan jauh dari risiko keruntuhan. Rezim di Teheran dilaporkan masih memegang kendali penuh atas masyarakatnya. Untuk menjaga stabilitas, posisi pemimpin tertinggi Iran bahkan telah digantikan oleh putra Khamenei, Mojtaba. Meskipun kelompok milisi Kurdi Iran sempat menawarkan bantuan pemberontakan, opsi tersebut ditolak oleh Presiden Donald Trump karena keraguan intelijen AS terhadap kapasitas persenjataan mereka.

Dalam pemaparan publik pertamanya sejak terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup. Langkah ini disebut sebagai alat strategis untuk menekan musuh, menambah ketegangan di kawasan dan memicu spekulasi lebih lanjut di pasar komoditas global.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar