haluannews.id – PT Wijaya Karya Tbk WIKA terus menggenjot penyelesaian proyek Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 1B sebuah infrastruktur vital yang tidak hanya memperkuat konektivitas Pantai Utara Jawa namun juga berperan sebagai benteng pertahanan terhadap banjir rob. Hingga Juni 2026 progres pengerjaan proyek strategis ini telah mencapai 8119 persen dengan target rampung pada April 2027.

Related Post
Dalam lingkup proyek ini WIKA bertanggung jawab atas pembangunan Ramp On Ramp Off Main Road tanggul laut combi wall serta revetment. Sejumlah bagian krusial seperti Ramp On Ramp Off Main Bridge dan Combi Wall telah sukses dituntaskan. Saat ini fokus pekerjaan bergeser pada timbunan material pilihan lapisan atas yang berfungsi sebagai preloading sea dike.

Kehadiran Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 1B membawa dampak signifikan. Selain mengurai kepadatan lalu lintas di jalur Pantura khususnya ruas Semarang-Demak dan mempererat jaringan Tol Trans Jawa proyek ini memiliki fungsi ganda yang inovatif. Ia dirancang sebagai tanggul laut atau sea dike yang esensial untuk mitigasi banjir rob di wilayah pesisir Semarang dan sekitarnya.
Fungsi multifungsi ini menjadi nilai tambah utama proyek. Selain sebagai jalur transportasi modern Tol Semarang-Demak Seksi 1B juga menjadi bagian integral dari strategi penanganan genangan rob dampak penurunan muka tanah atau land subsidence serta kerusakan jalan Pantura akibat intrusi air laut.
Corporate Secretary WIKA Ngatemin menegaskan bahwa pembangunan Tol Semarang-Demak Seksi 1B mencerminkan komitmen WIKA dalam menghadirkan infrastruktur yang berorientasi pada konektivitas sekaligus memberikan perlindungan langsung bagi masyarakat pesisir. "Proyek ini adalah solusi komprehensif untuk mobilitas dan perlindungan kawasan pesisir Semarang" ujarnya.
Pengerjaan proyek ini tidak lepas dari tantangan konstruksi yang kompleks mengingat lokasinya di atas tanah lunak dan berinteraksi langsung dengan area laut. Untuk mengatasi kendala ini WIKA mengaplikasikan metode khusus berupa penggunaan cerucuk bambu dan matras bambu sebelum material timbunan digelar. Struktur bambu ini berfungsi menjaga stabilitas timbunan di atas tanah lunak dan mendistribusikan beban secara merata.
Selain itu teknologi Prefabricated Vertical Drain PVD turut diterapkan untuk perbaikan tanah. Proses penimbunan dilakukan bertahap dengan masa tunggu yang ketat yaitu 55 hari untuk tahap 1 hingga 5 dan 150 hari untuk tahap 6 guna memastikan kepadatan timbunan sesuai standar desain.
Dari aspek pengendalian rob proyek ini dirancang dengan elevasi tanggul laut yang melampaui muka air laut tertinggi serta dilengkapi struktur revetment di sisi laut. Tanggul laut ini bersinergi dengan kolam retensi yang berfungsi mengendalikan ketinggian muka air di sisi darat. Dengan demikian kawasan pesisir Semarang akan terlindungi dari ancaman genangan rob saat muka air laut naik.
Pembangunan Tol Semarang-Demak Seksi 1B juga memberikan kontribusi positif terhadap penyerapan tenaga kerja lokal. Pada puncak pekerjaan matras bambu sekitar 750 pekerja terlibat dengan 200 di antaranya merupakan warga setempat yang terampil dalam penyusunan matras bambu secara manual.
Setelah beroperasi penuh Tol Semarang-Demak Seksi 1B diharapkan dapat mengurai kepadatan lalu lintas di jalur Pantura Semarang-Terboyo-Demak dan secara signifikan mengatasi permasalahan rob di kawasan pesisir Semarang membawa manfaat jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.










Tinggalkan komentar