haluannews.id – Jakarta – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) akhirnya angkat bicara menanggapi kabar penggeledahan kantor pusatnya oleh tim penyidik dari Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri. Peristiwa yang menarik perhatian publik ini dikonfirmasi terjadi pada 9 Juni 2026, berkaitan erat dengan penyelidikan dugaan korupsi dalam proyek ambisius Pengembangan dan Modernisasi Pabrik Gula Assembagoes milik PTPN XI.

Related Post
Manajemen WIKA membenarkan bahwa penggeledahan tersebut merupakan bagian dari upaya pengumpulan dokumen dan bukti terkait proses penyidikan proyek pabrik gula tersebut. Dalam proyek strategis ini, WIKA tidak berdiri sendiri, melainkan tergabung dalam sebuah Kerja Sama Operasi (KSO) bersama dua entitas BUMN lainnya, yakni PT Barata Indonesia (Persero) dan PT Multinas Indonesia. Ketiga perusahaan ini bertindak sebagai kontraktor utama yang bertanggung jawab atas pembangunan fasilitas pabrik gula di Situbondo.

Meskipun Pabrik Gula Assembagoes saat ini telah beroperasi penuh di bawah pengelolaan PTPN XI, konsorsium WIKA-Barata-Multinas masih memiliki satu kewajiban krusial yang belum tuntas: pelaksanaan uji kinerja atau performance test. Penundaan ini, menurut WIKA, disebabkan oleh belum terpenuhinya sejumlah persyaratan administratif yang tertuang dalam kontrak kerja sama. Perseroan menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait guna menuntaskan aspek administratif dan teknis sesuai ketentuan yang berlaku.
Terkait potensi dampak, WIKA menyatakan bahwa proses penyidikan dan penggeledahan ini diperkirakan tidak akan menimbulkan efek signifikan terhadap kegiatan operasional harian, kondisi finansial perusahaan, maupun kelangsungan usaha secara keseluruhan. Meski demikian, perseroan tetap melakukan pemantauan dan evaluasi reputasi secara berkala untuk menjaga citra positif di mata publik dan investor.
Sebagai langkah proaktif untuk meminimalisir risiko hukum dan memperkuat tata kelola perusahaan, WIKA telah meluncurkan delapan program penyehatan sejak tahun 2023. Inisiatif ini berfokus pada peningkatan transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas sistem pengendalian internal. Beberapa langkah konkret yang telah diterapkan meliputi penerapan prinsip four eyes principles dalam setiap proses tender, perbaikan mendalam pada kontrak konstruksi, serta penguatan mekanisme pengendalian proyek joint operation (JO).
Selain itu, perseroan juga mengadopsi digitalisasi dalam proses pengadaan, memanfaatkan biro kredit untuk penilaian mitra, dan mengintegrasikan sistem whistleblowing mereka langsung dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Untuk memastikan kinerja proyek berjalan optimal, WIKA menerapkan checkpoint pada setiap tahapan progres guna mengevaluasi aspek komersial dan operasional. Tak hanya itu, Digital Control Tower dioperasikan untuk memantau perkembangan proyek secara real-time, didukung oleh implementasi sistem ERP berbasis SAP di seluruh unit bisnis hingga anak perusahaan.










Tinggalkan komentar