haluannews.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto baru-baru ini menyingkap kembali lembaran sejarah pasar modal Indonesia, memicu perhatian publik. Dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-49 Pasar Modal dan peluncuran produk ETF Emas pada Senin 10 Agustus 2026, Airlangga menekankan pentingnya momen ini sebagai fondasi untuk menjaga keyakinan para investor. Ia menegaskan bahwa pasar modal selalu menjadi cerminan utama bagi kondisi ekonomi, baik di kancah domestik maupun internasional, terutama di tengah situasi yang strategis.

Related Post
Airlangga kemudian membawa audiens menyelami masa lalu, mengingatkan bahwa bursa efek pertama di Indonesia didirikan oleh Belanda, sebelum kemudian dihidupkan kembali oleh Presiden Soeharto pada tahun 1977. Namun, sorotan utama tertuju pada Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), yang ia sebut sebagai perusahaan publik pertama di dunia.

Fakta sejarah menunjukkan, VOC adalah perintis dalam menerbitkan saham kepada khalayak umum. Ini memungkinkan masyarakat luas untuk memiliki sebagian kepemilikan perusahaan. Saham-saham tersebut dijual kepada investor, yang kemudian berhak atas pembagian keuntungan dalam bentuk dividen.
Menurut Airlangga, pada masanya, lini bisnis VOC meliputi perdagangan komoditas dari wilayah Asia serta pelayaran. Ia mengungkapkan nilai kapitalisasi pasar VOC kala itu, jika diukur dengan nilai saat ini, mencapai angka fantastis US$ 7 hingga US$ 8 triliun. "Bahkan dengan nilai hari ini pun, angkanya sangat tinggi," ujar Airlangga, menggambarkan betapa raksasanya perusahaan dagang tersebut.
Keberadaan VOC yang perkasa ini, lanjut Airlangga, tak lepas dari dukungan melimpah komoditas asal Indonesia selama kurang lebih tiga abad. Tak heran, data sejarah mencatat bahwa Belanda menikmati PDB per kapita tertinggi di dunia sepanjang abad ke-16 hingga ke-19, sebuah warisan kemakmuran yang tak terpisahkan dari eksploitasi kekayaan Nusantara.










Tinggalkan komentar