Destry Hadapi Badai Ekonomi Global Ujian Berat Menanti

Destry Hadapi Badai Ekonomi Global Ujian Berat Menanti

haluannews.id – Presiden Prabowo Subianto telah menunjuk Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia BI. Penunjukan ini terjadi setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari kursi pimpinan bank sentral pada 25 Juli 2026. Nama Destry kini resmi diusulkan kepada DPR untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan. Surat presiden atau supres yang mengusulkan pencalonan Destry telah dikirimkan pada Senin 10 Agustus 2026 melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.

COLLABMEDIANET

Destry bukanlah sosok asing di lingkungan Dewan Gubernur BI. Sejak 29 Juli 2019, ia telah mengemban amanah sebagai Deputi Gubernur Senior BI dan kembali terpilih untuk periode 2024-2029. Bahkan, saat Perry Warjiyo mundur, Destry sempat ditunjuk oleh jajaran Dewan Gubernur BI untuk menjabat sebagai Gubernur BI sementara.

Destry Hadapi Badai Ekonomi Global Ujian Berat Menanti
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menurut Harry Baskoro seorang ekonom sekaligus Senior Fellow Center for Indonesian Policy Studies CIPS, latar belakang Destry yang kuat ini menjadi keuntungan langsung. Harry yang juga mantan Deputi Direktur Senior BI, menilai kepemimpinan Destry akan menjamin kesinambungan di BI setelah ditinggalkan Perry. Ia menegaskan bahwa Destry memiliki pemahaman mendalam tentang pasar dan mekanisme kebijakan. Pengalamannya yang panjang di Dewan Gubernur BI serta perannya sebagai gubernur sementara menjadikan transisi kepemimpinan minim kejutan.

Namun demikian, Harry mengingatkan bahwa Destry akan menghadapi serangkaian persoalan besar di tengah gejolak ekonomi dan keuangan global yang masih bergejolak. Ia memandang ujian bagi Destry jauh lebih berat daripada sekadar menjaga kesinambungan kebijakan.

Tantangan pertama yang menanti Destry adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan pasar. Destry harus mampu mempertahankan kredibilitas kebijakan di tengah tekanan eksternal yang tinggi. Penting untuk tidak terjebak dalam upaya mempertahankan level kurs tertentu dengan biaya yang terlalu besar. Harry menekankan bahwa yang harus dijaga bukan hanya angka rupiah hari ini, melainkan keyakinan pasar terhadap kerangka kebijakan BI yang jelas serta amunisi yang memadai untuk bertindak saat diperlukan.

Kedua, Destry akan dihadapkan pada dilema antara mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas. Terlebih dengan adanya Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan UU P2SK yang baru, BI kini memiliki mandat untuk memberikan dukungan pada pertumbuhan. Harry menjelaskan bahwa dukungan ini sah, namun operasi moneter bukanlah mesin pengganti pertumbuhan. Likuiditas yang melimpah tidak serta merta menjadi kredit atau investasi jika permintaan lemah, proyek tidak cukup bankable, atau dunia usaha masih melihat risiko yang terlalu tinggi. Oleh karena itu, Harry tidak setuju jika keberhasilan gubernur BI baru hanya diukur dari kemampuannya mengejar pertumbuhan 8 persen semata. Koordinasi fiskal dan moneter memang krusial, namun tidak harus selalu menghasilkan jawaban yang sama. Justru nilai sebuah bank sentral seringkali terlihat ketika berani menyatakan bahwa pedal gas sudah cukup ditekan, dan kini saatnya menginjak pedal rem.

Tantangan ketiga berkaitan erat dengan independensi dan kredibilitas proses pengambilan keputusan di Bank Indonesia, terutama pasca pengunduran diri Perry sebagai Gubernur BI. Setelah kejadian tersebut, pasar tidak hanya melihat siapa yang menjabat gubernur, tetapi juga apakah BI tetap memiliki ruang untuk mengambil keputusan yang mungkin tidak populer ketika stabilitas mengharuskannya.

Menyikapi berbagai ujian tersebut, Harry berharap Destry sebagai calon gubernur BI yang baru dapat bekerja erat dengan pemerintah tanpa kehilangan kemampuan untuk berbeda pendapat. Koordinasi memang penting, namun jangan sampai berubah menjadi kewajiban untuk selalu menyetujui setiap keinginan pemerintah. Keberhasilan gubernur BI berikutnya, menurut Harry, jangan hanya diukur dari seberapa banyak likuiditas yang disediakan atau seberapa tinggi pertumbuhan kredit. Ukurlah juga dari apakah rupiah tetap kredibel, ekspektasi inflasi terjaga, pasar percaya pada kerangka kebijakan BI, dan ketika perlu, gubernur masih mampu mengatakan ‘Yang ini jangan dulu’.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar