IHSG Anjlok Parah Saham Ini Biang Keroknya

IHSG Anjlok Parah Saham Ini Biang Keroknya

haluannews.id – Bursa saham Indonesia kembali dilanda sentimen negatif pada perdagangan Selasa 11 Agustus 2026. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG terperosok dalam ke zona merah bahkan sempat menyentuh penurunan lebih dari 2% di sesi kedua. Penutupan perdagangan menunjukkan IHSG anjlok 97,49 poin atau setara 1,53% dan berakhir di level 6.267,88.

COLLABMEDIANET

Sejak dibuka pada posisi 6.383,81, pergerakan indeks acuan ini sepanjang hari berfluktuasi antara 6.230 hingga 6.388. Tekanan jual yang masif terlihat jelas dari dominasi saham-saham yang melemah. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 542 saham ambruk, hanya 141 saham yang berhasil menguat, sementara 108 saham lainnya stagnan.

IHSG Anjlok Parah Saham Ini Biang Keroknya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Aktivitas transaksi di lantai bursa cukup ramai dengan total volume perdagangan mencapai 35,37 miliar saham. Nilai transaksi harian tercatat sekitar Rp 14,49 triliun, dengan frekuensi perdagangan mencapai 2,19 juta kali. Hampir seluruh sektor saham terpantau berada di wilayah negatif, kecuali sektor kesehatan yang menunjukkan sedikit penguatan.

Salah satu saham berkapitalisasi besar yang menjadi biang kerok utama pelemahan IHSG adalah PT DCI Indonesia Tbk DCII. Saham DCII ditutup pada harga Rp 196.500 per saham, merosot 4,66%. Meskipun volume transaksinya tergolong kecil, hanya Rp 242 juta dari 12 lot, kontribusi penurunannya terhadap IHSG mencapai sekitar 11 poin. Selain DCII, saham-saham raksasa lainnya seperti Bank Central Asia BBCA Amman Mineral Internasional AMMN Bank Mandiri BMRI dan VKTR Teknologi Mobilitas VKTR juga turut membebani kinerja IHSG.

Di tengah gempuran sentimen negatif, beberapa saham masih mampu memberikan kontribusi positif. Indosat ISAT menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan sumbangan sekitar 0,96 poin, diikuti Kalbe Farma KLBF dengan 0,93 poin, dan Indah Kiat Pulp & Paper INKP sebesar 0,86 poin.

Pergerakan pasar modal hari ini tak lepas dari bayang-bayang sentimen global dan domestik. Salah satu isu utama adalah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump pada Senin 10 Agustus 2026 menuntut Iran untuk membayar kompensasi atas korban jiwa akibat perang serangan dan demonstrasi selama 50 tahun terakhir. Tuntutan baru ini berpotensi semakin mempersulit upaya pembukaan kembali Selat Hormuz yang strategis. Sebelumnya Iran menuntut kompensasi penghentian sanksi serta penghentian ancaman militer AS sebagai syarat pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut.

Dampak dari ketidakpastian geopolitik ini juga terasa di pasar komoditas. Harga minyak melonjak sekitar 5% pada Senin 10 Agustus 2026. Minyak jenis WTI ditutup di level US$ 82,13 per barel, sementara Brent mencapai US$ 87,72 per barel. Kenaikan harga minyak ini mencerminkan keraguan pasar akan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran untuk melancarkan kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar