haluannews.id – Sebuah kabar mengejutkan datang dari proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini mengungkapkan bahwa skema pembayaran utang untuk mega proyek ini telah direstrukturisasi secara drastis, dengan masa pelunasan yang membentang hingga delapan dekade atau 80 tahun. Meski durasi pelunasan terbilang sangat panjang, Purbaya menegaskan bahwa beban cicilan tahunan tetap dalam batas aman dan sanggup ditanggung oleh pemerintah.

Related Post
"Total utang memang besar, namun dengan perpanjangan tenor hingga 80 tahun, beban cicilan tahunan menjadi sangat terkendali," jelas Purbaya saat ditemui di kawasan Sunter, Jakarta Utara, belum lama ini. Ia menambahkan, "Estimasi cicilan berkisar Rp1 triliun atau sedikit di bawah angka tersebut setiap tahunnya. Fluktuasinya ada, namun secara keseluruhan, kami melihat ini masih sangat memungkinkan untuk dikelola."

Saking panjangnya durasi pembayaran, Purbaya bahkan sempat melontarkan candaan. "Delapan puluh tahun itu saya dengar kemarin. Hebat juga ya," ujarnya sambil tertawa ringan. "Kita semua mungkin sudah tiada saat utang itu lunas, jadi santai saja," imbuhnya, menunjukkan optimisme terhadap keberlanjutan proyek ini.
Keterangan ini disampaikan Purbaya di tengah persiapan pengalihan pengelolaan kewajiban utang Whoosh. Sebelumnya, tanggung jawab ini dipegang oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), namun akan beralih sepenuhnya ke Kementerian Keuangan mulai 15 September 2026.
Pemerintah, melalui Kementerian Keuangan, sedang merancang skema terbaik untuk mengelola kewajiban ini. Beberapa opsi sedang dipertimbangkan, termasuk pemanfaatan Special Mission Vehicle (SMV) yang berada di bawah naungan Kemenkeu, atau melalui Indonesia Investment Authority (INA). "Ada kemungkinan besar kami akan menggunakan SMV atau INA," ungkap Purbaya.
Purbaya menekankan bahwa prioritas utama pemerintah bukanlah pada besaran total pokok utang, melainkan pada kapasitas pembayaran kewajiban yang harus dipenuhi setiap tahunnya. Hasil simulasi menunjukkan bahwa cicilan tahunan Whoosh masih berada pada level yang sangat aman dan terkelola.
"Saya hanya berfokus pada beban tahunan. Jika melihat simulasi, satu atau dua SMV di bawah Kementerian Keuangan sudah lebih dari cukup untuk menangani cicilan ini," jelasnya. Purbaya juga memastikan bahwa entitas yang kelak ditunjuk untuk mengelola kewajiban Whoosh tidak akan memerlukan suntikan modal baru atau pencarian investor tambahan.
Pasalnya, beberapa SMV di bawah Kementerian Keuangan saat ini memiliki kapasitas finansial yang sangat solid untuk menyerap beban pembayaran tersebut. "Dana sudah tersedia. Misalnya, satu perusahaan SMV saja bisa menghasilkan keuntungan Rp3 triliun hingga Rp4 triliun per tahun, ditambah keuntungan operasional sekitar Rp800 miliar," ungkap Purbaya dalam kesempatan terpisah di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Dengan implementasi skema restrukturisasi yang matang ini, pemerintah optimis bahwa kewajiban pembayaran utang proyek kereta cepat dapat dikelola dengan baik, tanpa menimbulkan tekanan berarti pada kondisi fiskal negara baik dalam jangka pendek maupun menengah.










Tinggalkan komentar