haluannews.id – Pasar modal Indonesia kembali diuji. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG harus menelan pil pahit setelah sempat dibuka menguat pada perdagangan Rabu 9 September 2026. Penutupan sesi pertama menunjukkan IHSG terperosok 0,58 persen atau kehilangan 38,95 poin parkir di level 6.647,49.

Related Post
Pergerakan IHSG sepanjang hari ini cukup fluktuatif. Setelah mencapai puncak sementara di 6.707,30 indeks kemudian menyentuh titik terendah 6.642,15. Data perdagangan mencatat 355 saham mengalami koreksi sementara 268 saham berhasil menguat dan 168 lainnya stagnan.

Volume transaksi pada sesi awal perdagangan mencapai angka fantastis 21,61 miliar saham. Sebanyak 1,3 juta kali transaksi terjadi dengan total nilai perdagangan yang mencapai Rp 8,32 triliun. Mayoritas sektor menunjukkan pelemahan dengan sektor konsumer non-primer kesehatan dan finansial menjadi yang paling terpukul.
Saham-saham berkapitalisasi besar turut menjadi beban utama yang menyeret IHSG. Bank Central Asia BBCA misalnya menjadi biang keladi utama dengan sumbangan penurunan hingga 14 poin bagi indeks gabungan. Tak hanya itu Bayan Resources BYAN juga turut memperparah tekanan pada kinerja indeks.
Sentimen pasar global hari ini bergerak campur aduk. Di satu sisi kabar baik datang dari revisi pertumbuhan ekonomi Jepang yang lebih tinggi serta surplus perdagangan China yang kembali melebar. Namun di sisi lain kekhawatiran investor meningkat akibat eskalasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang memicu lonjakan harga minyak. Konflik perdagangan antara Amerika Utara Kanada dan AS juga menambah daftar sentimen negatif.
Lonjakan harga minyak mentah menjadi sorotan utama. Brent sempat menembus US$99 per barel setelah laporan serangan Iran terhadap kapal Angkatan Laut AS. Minyak mentah West Texas Intermediate WTI juga ikut merangkak naik hingga melampaui US$94 per barel. Kenaikan ini sontak memicu kembali kekhawatiran akan inflasi dan prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve The Fed.
Bursa saham Asia-Pasifik menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,23 persen diikuti oleh Topix yang turun 0,35 persen. Berbeda dengan Korea Selatan di mana indeks Kospi menguat 0,36 persen dan Kosdaq naik 0,47 persen. Indeks acuan Australia S&P/ASX 200 juga terpantau menguat tipis.
Di Amerika Serikat pasar saham juga tertekan pada perdagangan Selasa setelah libur panjang Labor Day. Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 1,2 persen mencatat penurunan harian terburuk dalam hampir tiga pekan. S&P 500 terkoreksi 0,6 persen dan Nasdaq Composite melemah 0,3 persen. Investor kini lebih mencermati risiko geopolitik dan dampaknya terhadap laju inflasi.
Ke depan investor akan menantikan rilis data inflasi China dan keyakinan konsumen Indonesia. Kedua indikator ini diperkirakan akan memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan mata uang yuan dan rupiah harga komoditas serta dinamika pasar saham regional.










Tinggalkan komentar