Tragedi Mal Terbesar Korea Selatan

Tragedi Mal Terbesar Korea Selatan

haluannews.id – Keserakahan manusia sering kali menjadi bumerang yang berujung pada maut. Sejarah kelam Korea Selatan mencatat sebuah peristiwa yang tidak akan pernah terlupakan, yakni runtuhnya Sampoong Department Store. Mal yang saat itu menyandang predikat sebagai pusat perbelanjaan terbesar di negeri ginseng tersebut, hancur berkeping-keping bukan karena bencana alam, melainkan akibat kelalaian manajemen yang lebih mementingkan keuntungan finansial daripada nyawa manusia.

COLLABMEDIANET

Peristiwa mematikan yang terjadi pada 29 Juni 1995 ini menjadi salah satu bencana non-alam paling tragis dalam sejarah modern. Tercatat sebanyak 502 orang kehilangan nyawa dalam sekejap, sementara lebih dari 1.500 pengunjung dan staf terjebak di bawah reruntuhan beton yang masif.

Tragedi Mal Terbesar Korea Selatan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Berdasarkan laporan dari The Guardian, tanda-tanda kehancuran sebenarnya sudah muncul jauh sebelum mal itu ambruk. Sejak April 1995, retakan besar mulai terlihat jelas pada dinding dan atap di lantai lima. Namun, alih-alih mengambil langkah evakuasi atau melakukan audit struktur secara menyeluruh, pihak pengelola justru memilih jalan pintas yang fatal. Mereka hanya memindahkan beberapa kios ke lantai bawah agar operasional tetap berjalan, sementara lantai lainnya tetap dibuka untuk umum demi menjaga arus pendapatan.

Ketegangan memuncak pada sore hari nahas tersebut. Retakan bangunan dilaporkan semakin meluas hingga ke lantai empat. Ironisnya, manajemen tidak menutup gedung tersebut. Mereka hanya mematikan sistem pendingin ruangan (AC) dengan alasan teknis, padahal sebenarnya mereka hanya ingin menghindari kerugian transaksi bisnis di hari yang ramai itu. Di tengah situasi yang semakin mengkhawatirkan, para petinggi perusahaan justru memilih untuk melarikan diri dari lokasi, meninggalkan ribuan karyawan dan pengunjung dalam ketidaktahuan.

Suasana mal yang pengap dan panas akibat AC yang mati tidak menyadarkan pengunjung akan bahaya yang mengintai. Hingga sekitar pukul 17.50 waktu setempat, suara gemuruh yang menyerupai kereta bawah tanah mulai terdengar. Dalam hitungan detik, bangunan megah berlantai lima itu runtuh total. Park Seung-Hyun, salah satu penyintas, menceritakan betapa mencekamnya momen tersebut saat beton mulai berjatuhan dan kepanikan massal pecah di tengah kerumunan.

Hasil investigasi mendalam mengungkap bahwa akar masalah dimulai sejak tahap pembangunan pada tahun 1987. Lahan mal tersebut ternyata merupakan bekas tempat pembuangan sampah yang memiliki kondisi tanah tidak stabil. Kontraktor awal sebenarnya telah memperingatkan risiko pembangunan di atas lahan labil tersebut, namun pemilik Sampoong, Lee Joon, menolak mentah-mentah saran tersebut. Ia bahkan memecat kontraktor yang tidak mau mengikuti instruksinya dan mencari pihak lain yang bersedia menuruti kemauan desainnya yang cacat secara struktur.

Akibat kelalaian berat ini, pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman penjara kepada Lee Joon dan putranya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas hilangnya ratusan nyawa. Tragedi Sampoong kini menjadi pengingat keras bagi dunia mengenai betapa mahalnya harga yang harus dibayar akibat pengabaian standar keselamatan demi mengejar materi. Melansir informasi dari haluannews.id, kasus ini tetap menjadi studi kasus penting dalam manajemen risiko dan etika bisnis di seluruh dunia.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar