Harta Karun Tersembunyi di Bawah Bantal

Harta Karun Tersembunyi di Bawah Bantal

haluannews.id – Indonesia menyimpan rahasia ekonomi yang sangat besar namun belum terjamah oleh sistem keuangan negara. Sebuah fakta mengejutkan baru saja diungkap oleh pemerintah, yang menyatakan bahwa ribuan ton emas milik masyarakat Indonesia saat ini masih tersimpan secara konvensional, atau lebih dikenal dengan istilah "di bawah bantal". Fenomena ini menunjukkan adanya potensi ekonomi yang sangat masif namun belum terutilisasi secara optimal untuk pembangunan nasional.

COLLABMEDIANET

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa estimasi total emas yang disimpan secara pribadi oleh warga Indonesia mencapai angka 1.800 ton. Jika angka ini dikonversi ke dalam nilai mata uang, jumlahnya sangat fantastis. Dengan menggunakan kurs saat ini di level Rp17.880 per dolar AS, total nilai emas yang "menganggur" tersebut mencapai angka Rp4.505 triliun atau setara dengan US$252 miliar.

Harta Karun Tersembunyi di Bawah Bantal
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Potensi ini bukan sekadar angka di atas kertas. Jika pemerintah berhasil mengintegrasikan seluruh emas milik masyarakat tersebut ke dalam sistem keuangan domestik, posisi cadangan emas Indonesia akan langsung melonjak drastis. Indonesia diprediksi akan langsung masuk ke dalam jajaran negara dengan cadangan emas terbesar di dunia.

Sebagai gambaran skala besarnya, Amerika Serikat saat ini masih memegang takhta sebagai pemilik cadangan emas terbanyak di dunia dengan total 8.133 ton. Di posisi berikutnya terdapat China yang memiliki cadangan sebanyak 2.331 ton. Jika 1.800 ton emas milik warga Indonesia berhasil dikelola secara formal, posisi Indonesia akan langsung berada tepat di bawah negara-negara raksasa tersebut.

"Kalau Indonesia punya 1.800 ton, itu sudah langsung di bawah mereka semua. Ini adalah potensi pertumbuhan yang luar biasa jika kita bisa melakukannya," ujar Airlangga dalam sebuah acara resmi di Jakarta.

Melihat besarnya "harta karun" yang masih tertidur ini, pemerintah kini tengah mendorong lembaga keuangan untuk menciptakan inovasi baru. Fokus utama pemerintah adalah membangun kepercayaan masyarakat agar bersedia memindahkan aset emas mereka dari penyimpanan pribadi ke sistem perbankan yang lebih aman dan produktif.

Airlangga secara khusus memberikan mandat kepada lembaga jasa keuangan yang telah memiliki layanan bullion (perdagangan emas), yakni PT Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI). Kedua lembaga ini diminta untuk merancang instrumen keuangan yang menarik agar masyarakat merasa nyaman menitipkan aset emas mereka.

Saat ini, jumlah emas yang sudah dikelola secara resmi masih tergolong kecil dibandingkan total potensi yang ada. Tercatat, PT Pegadaian baru mengelola sekitar 153 ton emas, sementara Bank Syariah Indonesia (BSI) baru mengelola sekitar 20 ton. Pemerintah menargetkan setidaknya sebagian kecil saja dari total emas di bawah bantal tersebut dapat masuk ke sistem perbankan formal untuk menggerakkan roda ekonomi nasional.

"Tugas Pegadaian dan BSI adalah bagaimana agar US$252 miliar ini, meski hanya 20 persen saja yang pindah dari bawah bantal ke instrumen keuangan atau perbankan, dapat memberikan dampak besar bagi ekonomi kita," tutup Airlangga.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar