haluannews.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini tengah berada dalam zona waspada setelah menunjukkan tren pelemahan yang signifikan. Mata uang Garuda dilaporkan semakin mendekati level psikologis yang mengkhawatirkan, yakni menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini memicu perhatian serius dari pemerintah dan otoritas moneter di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian memanas.

Related Post
Menanggapi situasi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan pernyataan terkait fluktuasi yang tengah terjadi. Saat ditemui di kantornya di Jakarta Pusat, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan nilai tukar tersebut. Menurutnya, naik turunnya nilai mata uang adalah bagian dari dinamika pasar yang lumrah terjadi.

"Ya kita lihat saja, kita monitor. Kan fluktuasi itu sesuatu yang biasa ya," ujar Airlangga singkat kepada awak media. Meski demikian, Airlangga belum merinci langkah konkret apa yang akan diambil pemerintah untuk membendung laju pelemahan rupiah agar tidak terus merosot lebih dalam.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp17.900 per dolar AS, sebuah angka yang sangat dekat dengan ambang batas Rp18.000. Walaupun sempat terlihat ada sedikit penguatan ke level Rp17.895 per dolar AS pada siang harinya, tekanan terhadap mata uang domestik diprediksi masih akan sangat kuat dalam waktu dekat.
Pelemahan ini tidak terjadi tanpa alasan. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah berasal dari dua arah, yakni faktor eksternal global dan faktor domestik. Dari sisi global, ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat yang cenderung ketat menjadi pemicu utama. Kekhawatiran akan inflasi global dan prospek fiskal AS telah mendorong imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun melonjak hingga 5,11 persen. Angka ini merupakan level tertinggi yang pernah tercatat sejak tahun 2007.
Selain faktor kebijakan AS, tensi geopolitik di Timur Tengah juga turut memperkeruh suasana. Konflik yang terus berlanjut memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dunia, yang berdampak pada melonjaknya harga minyak mentah Brent hingga menembus angka di atas US$100 per barel. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai aset aman (safe haven).
Dari sisi domestik, tekanan juga datang dari meningkatnya kebutuhan valuta asing oleh para importir menjelang berakhirnya kuartal ketiga tahun ini. Selain itu, fenomena arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang (emerging markets) turut memperlemah posisi rupiah.
Menghadapi badai ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk tetap hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap selaras dengan fundamental ekonomi nasional. BI tengah memperkuat strategi operasi moneter yang lebih berorientasi pada mekanisme pasar (pro-market) guna mengelola struktur suku bunga dan memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga di tengah ketidakpastian dunia.










Tinggalkan komentar