haluannews.id – Sebuah tawaran senilai fantastis, mencapai Rp471,34 miliar atau setara US$26,48 juta, datang menghampiri dua petani perempuan di Kentucky, Amerika Serikat. Uang sebanyak itu ditawarkan oleh sebuah perusahaan teknologi kecerdasan buatan (AI) raksasa untuk membeli lahan pertanian keluarga mereka. Namun, alih-alih menerima kekayaan instan, tawaran menggiurkan tersebut justru ditolak mentah-mentah tanpa ragu.

Related Post
Delsia Bare (54) dan ibunya, Ida Huddleston (83), adalah sosok di balik penolakan mengejutkan ini. Tanah warisan keluarga mereka menjadi incaran utama perusahaan AI yang kuat dugaan berafiliasi dengan Meta. Untuk lahan milik Bare seluas 463 acre (sekitar 187 hektare), perusahaan berani membayar US$48.000 atau sekitar Rp854,4 juta per acre. Sementara itu, untuk 71 acre lahan milik Huddleston, tawaran mencapai US$60.000 atau sekitar Rp1,07 miliar per acre.

Awalnya, Bare dan Huddleston sempat menandatangani kesepakatan jual beli. Namun, segalanya berubah drastis ketika mereka mengetahui bahwa lahan subur mereka akan disulap menjadi pusat data (data center) raksasa berkapasitas 2,2 gigawatt. Delsia Bare, dengan tegas, langsung membatalkan kontrak yang sudah diteken. Ia bahkan mengusir perwakilan perusahaan tersebut dari propertinya.
"Enyahlah dan jangan pernah kembali," ujar Bare, seperti dikutip dari laporan The Wall Street Journal. Baginya, tanah tersebut bukan sekadar aset finansial. Lahan itu telah diolah oleh keluarganya selama hampir dua abad, sejak dibeli pada tahun 1848, dan pernah menjadi penopang hidup di masa Depresi Besar AS. Bare juga mengungkapkan bahwa keyakinan agamanya menjadi alasan utama penolakan ini, diiringi keraguan mendalam terhadap masa depan teknologi AI. "Saya percaya kecerdasan buatan akan menjadi kehancuran umat manusia," tegasnya.
Keputusan Bare dan Huddleston ini sontak memicu perpecahan di Maysville, kota kecil berpenduduk sekitar 8.700 jiwa. Warga terbelah antara yang mendukung pembangunan pusat data dan yang menentangnya. Menurut Direktur Pengembangan Ekonomi setempat, Tyler McHugh, sekitar 20% warga menolak keras, 20% mendukung penuh, sementara 60% sisanya hanya berharap polemik ini segera berakhir.
Di sisi lain, perusahaan raksasa itu telah menjanjikan sejumlah kompensasi besar bagi daerah tersebut. Termasuk total kesepakatan lahan senilai US$110 juta (sekitar Rp1,958 triliun) bagi warga yang bersedia menjual, dana Rp267 miliar (US$15 juta) untuk layanan darurat, hingga Rp1,42 triliun (US$80 juta) untuk perbaikan infrastruktur air. Proyek ini juga diklaim akan menciptakan 400 lapangan kerja permanen.
Meski banyak warga lain tergiur dan akhirnya menjual tanah mereka, Bare dan Huddleston tetap teguh pada pendiriannya. Delsia Bare bahkan membawa kasus ini ke jalur hukum, yang ironisnya membuatnya harus berhadapan dengan tetangganya sendiri di pengadilan akibat aturan hukum setempat yang mewajibkan gugatan diarahkan kepada pihak yang menyetujui perubahan zonasi.
"Bahkan kalau saya punya Rp471 miliar sekalipun, saya tetap ingin duduk di kursi ini, minum kopi, dan makan di rumah saya seperti biasa," kata Ida Huddleston, menggarisbawahi bahwa bagi mereka, kenyamanan, ketenangan, dan warisan keluarga jauh lebih berharga daripada kekayaan instan dari perusahaan teknologi.










Tinggalkan komentar