haluannews.id – Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi mengungkapkan kekhawatirannya terkait potensi tekanan pada profitabilitas industri perbankan jika suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) terus meningkat. Menurut Hery, fenomena ini akan memicu kenaikan bunga deposito, namun dampaknya bervariasi tergantung pada struktur pendanaan tiap bank.

Related Post
Berbicara di Sentra BRI pada Selasa (21/7/2026), Hery Gunardi menjelaskan bahwa bank dengan porsi dana murah (CASA) yang besar, seperti giro dan tabungan, akan lebih resilient. "Seperti BRI, tabungannya besar sekali, kemudian giro. Dan giro dan tabungannya nggak ikut naik. Yang naik kan deposito yang memang sensitif terhadap pricing," ujarnya, menegaskan bahwa dana murah tidak terlalu terpengaruh oleh kenaikan suku bunga kebijakan.

Meski demikian, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) itu mengakui bahwa biaya pendanaan atau cost of fund pasti akan mengalami peningkatan. Namun, bank tidak bisa serta-merta mengerek suku bunga kredit. Hery menyebut ada jeda waktu transmisi sekitar tiga hingga empat bulan sebelum kenaikan suku bunga acuan benar-benar tercermin pada suku bunga pinjaman. Ia juga membenarkan adanya "perang" suku bunga yang terjadi di segmen deposito antarbank.
Sebagai informasi, Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebanyak 100 basis poin sepanjang tahun ini, membawa suku bunga acuan ke level 5,75%. Keputusan BI Rate selanjutnya akan diumumkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan segera.
Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut mengamini kekhawatiran ini. Indikator profitabilitas perbankan, tercermin dari rasio Net Interest Margin (NIM), memang menunjukkan tren penurunan di berbagai kelompok bank sepanjang tahun ini. Bank KBMI I mencatatkan NIM 4,70% pada akhir 2025, sempat turun ke 4,56% di Februari, lalu kembali ke 4,70% pada Mei 2026.
Sementara itu, bank KBMI II melihat NIM mereka turun dari 5,11% akhir tahun lalu menjadi 4,84% pada Mei 2026. Kelompok bank papan tengah, KBMI III, juga mengalami penurunan NIM dari 3,91% menjadi 3,77% di periode yang sama. Tak ketinggalan, bank-bank raksasa Indonesia atau KBMI IV, mencatatkan NIM 4,78% per Mei 2026, turun dari 5,08% pada akhir tahun sebelumnya. Kondisi ini menyoroti tantangan serius bagi sektor perbankan dalam menjaga margin keuntungan di tengah kebijakan moneter yang ketat.








Tinggalkan komentar