Haluannews Ekonomi – Emiten menara telekomunikasi PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) mencatatkan kenaikan laba bersih yang moderat, hanya 23,16%, pada kuartal pertama tahun 2026. Angka ini terlihat kontras dan relatif kecil jika dibandingkan dengan performa harga saham MORA yang telah melesat ribuan persen sejak tahun lalu, menimbulkan pertanyaan di kalangan investor dan analis pasar.

Related Post
Berdasarkan laporan keuangan terbaru yang diakses dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), laba tahun berjalan perusahaan telekomunikasi ini mencapai Rp128,82 miliar per Maret 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan dari periode yang sama tahun sebelumnya, di mana perseroan membukukan laba sebesar Rp104,59 miliar pada Maret 2025.

Peningkatan laba bersih yang dicatatkan oleh emiten yang dikenal dengan nama Moratelindo ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan. Total pendapatan perseroan berhasil naik menjadi Rp962,60 miliar dari sebelumnya Rp895,45 miliar. Namun, seiring dengan kenaikan pendapatan, beban pokok pendapatan juga ikut terkerek menjadi Rp370,11 miliar. Kontribusi terbesar pendapatan MORA berasal dari kontrak dengan pelanggan penyelenggaraan telekomunikasi senilai Rp711,67 miliar. Sementara itu, pendapatan non-penyelenggaraan telekomunikasi menyumbang Rp224,53 miliar, dan pendapatan dari hak penggunaan tak terbatas (indefeasible right of use/IRU) tercatat sebesar Rp26,39 miliar.
Meski kinerja fundamental menunjukkan pertumbuhan yang terbilang tipis, harga saham MORA justru mengalami lonjakan luar biasa. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, saham MORA telah melambung fantastis hingga 1.035,87%, mencapai level Rp5.225 per saham. Disparitas antara kenaikan harga saham dan pertumbuhan laba ini menjadi sorotan utama di pasar modal.
Dari perspektif valuasi, saham MORA saat ini diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba per saham (Price to Earnings Ratio/PER) yang sangat tinggi, yakni 275,49 kali. Angka ini jauh di atas rata-rata subsektor telekomunikasi yang sejenis. Sebagai perbandingan, PER Telkom (TLKM) berada di angka 14,17 kali, Mitratel (MTEL) 20,90 kali, TBIG 28,58 kali, dan Indosat (ISAT) 11,68 kali. Valuasi premium yang melejit ini mengindikasikan ekspektasi pasar yang sangat tinggi terhadap prospek MORA di masa depan.
Dari sisi permodalan, per Maret 2026, perusahaan mencatatkan total aset sebesar Rp14,92 triliun, meningkat dari Rp14,76 triliun pada periode sebelumnya. Adapun liabilitas MORA tercatat sebesar Rp6,86 triliun dan ekuitas sebesar Rp8 triliun, menunjukkan struktur keuangan yang solid.
Dalam perkembangan terbaru, MORA juga direncanakan akan melakukan aksi korporasi penting berupa merger dengan PT Eka Mas Republik atau MyRepublic, salah satu entitas dari grup Sinar Mas. Berdasarkan dokumen yang diterima Haluannews.id, dalam transaksi penggabungan ini, MORA akan bertindak sebagai perusahaan yang menerima penggabungan, menandakan potensi sinergi dan ekspansi bisnis di masa mendatang.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar