haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG kembali terjerembab pada perdagangan Jumat 5 Juni 2026 melanjutkan rentetan tekanan jual yang tak kunjung usai. Setelah sehari sebelumnya ambruk nyaris dua persen, pasar modal Indonesia kembali diwarnai sentimen negatif yang membuat investor cemas.

Related Post
Pada pembukaan perdagangan pagi, IHSG sempat menunjukkan tanda-tanda perlawanan dengan menguat tipis 0,11 persen ke level 5.846,49. Namun euforia itu tak bertahan lama. Arus jual yang masif kembali membanjiri pasar, mendorong indeks turun lebih dalam ke posisi 4.795 atau terkoreksi 0,75 persen. Sepanjang sesi pagi, IHSG bergerak fluktuatif, mencapai titik tertinggi di 5.855,07 dan terendah di 5.795,63.

Dominasi saham-saham yang melemah masih terasa kuat. Tercatat 135 emiten mengalami penurunan harga, sementara 184 saham berhasil menguat dan 272 lainnya bergerak stagnan. Nilai transaksi perdagangan di awal sesi mencapai Rp417,86 miliar dengan volume 276,13 juta saham yang berpindah tangan melalui 32.505 kali transaksi. Akibat tekanan ini, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia terpangkas menjadi Rp10.313 triliun.
Koreksi tajam ini merupakan kelanjutan dari performa buruk IHSG pada Kamis 4 Juni 2026. Kala itu, indeks sempat anjlok hingga lima persen ke level 5.644,23 sebelum berhasil memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan. IHSG akhirnya ditutup di level 5.839,78, melemah 1,7 persen, setelah pada akhir sesi pertama sempat merosot 3,48 persen.
Pergerakan investor asing menjadi sorotan utama yang memicu kepanikan. Pada sesi pertama Kamis, investor asing masih membukukan beli bersih sebesar Rp179 miliar. Namun, situasi berbalik drastis menjelang penutupan. Data menunjukkan investor asing melakukan total pembelian Rp12,52 triliun dan penjualan Rp13,79 triliun, berakhir dengan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp1,27 triliun di seluruh pasar. Aksi jual terbesar terkonsentrasi pada saham-saham perbankan raksasa. BBCA dilepas asing senilai Rp475,5 miliar, disusul BBRI Rp451,6 miliar, BMRI Rp164 miliar, dan BBNI Rp106,2 miliar. Secara keseluruhan, empat bank besar tersebut mencatatkan penjualan asing lebih dari Rp1,19 triliun. Koreksi berkelanjutan ini membawa IHSG kembali menyentuh level terendah dalam setahun terakhir.
Sentimen negatif datang dari berbagai penjuru. Penurunan prospek dari Danantara Investment Management, pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus Rp18.000 per dolar AS, hingga kekhawatiran pasar terhadap hasil penilaian lembaga pemeringkat dan evaluasi MSCI yang akan diumumkan pada Juni ini, semuanya berkontribusi. Kondisi tersebut mendorong investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di Indonesia.
Di tengah gejolak domestik, bursa saham Asia-Pasifik juga dibuka melemah pada perdagangan Jumat 5 Juni 2026. Pasar Korea Selatan memimpin penurunan di kawasan, terpicu oleh koreksi saham-saham teknologi di Wall Street semalam. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 4,11 persen, dengan saham-saham berkapitalisasi besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing merosot sekitar enam dan delapan persen. Sementara itu, indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq juga turun 2,41 persen.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 terkoreksi 1,1 persen mengikuti pelemahan sektor teknologi global. Indeks S&P/ASX 200 Australia juga turun 0,2 persen pada awal perdagangan. Prospek pasar Hong Kong turut cenderung negatif, dengan kontrak berjangka indeks Hang Seng diperdagangkan di level 25.158, lebih rendah dibandingkan penutupan indeks Hang Seng pada Kamis yang berada di posisi 25.253,40.
Pelemahan pasar Asia ini terjadi setelah pergerakan beragam di Wall Street pada perdagangan Kamis waktu setempat. Indeks Dow Jones Industrial Average justru mencetak rekor tertinggi baru setelah melonjak 874,86 poin atau 1,73 persen ke level 51.561,93. Sebaliknya, indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,09 persen dan ditutup di level 26.830,96. Sementara itu, indeks S&P 500 masih mampu menguat 0,41 persen ke posisi 7.584,31.










Tinggalkan komentar