Saham Ini Bikin Cuan Melejit IHSG Terkoreksi Tipis

Saham Ini Bikin Cuan Melejit IHSG Terkoreksi Tipis

haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG mengakhiri sesi perdagangan Senin 3 Agustus dengan performa yang relatif stabil meskipun mencatat koreksi minor sebesar 003 persen parkir di level 623450. Pergerakan indeks ini didukung oleh kenaikan signifikan pada beberapa saham unggulan seperti PT Telkom Indonesia Tbk TLKM yang melesat 418 persen disusul AMMN dengan lonjakan 439 persen dan MAPI yang meroket hingga 2186 persen. Namun di sisi lain tekanan jual pada saham BREN yang turun 418 persen DCII yang melemah 166 persen dan BBRI yang terkoreksi 066 persen sedikit menahan laju penguatan indeks.

COLLABMEDIANET

Aktivitas investor asing menunjukkan tren jual bersih yang cukup besar mencapai Rp75871 miliar di pasar reguler dan total Rp70800 miliar di seluruh pasar. Secara sektoral mayoritas atau delapan dari sebelas sektor ditutup melemah dengan sektor teknologi mengalami koreksi terdalam sebesar 152 persen sementara sektor siklikal menjadi pemimpin penguatan dengan kenaikan 164 persen.

Saham Ini Bikin Cuan Melejit IHSG Terkoreksi Tipis
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sentimen positif dari bursa saham Amerika Serikat turut memberikan dorongan. Indeks Dow Jones ditutup menguat 132 persen mencapai 53178 S&P 500 naik 148 persen ke 7600 dan Nasdaq bertambah 213 persen ke 25913. Pelaku pasar juga menyoroti implementasi notasi khusus oleh Bursa Efek Indonesia BEI yang mulai berlaku pada 3 Agustus 2026. Notasi ini meliputi L untuk emiten yang belum menyerahkan laporan keuangan serta notasi B dan M yang berkaitan dengan kondisi kepailitan atau PKPU. Sementara itu notasi P yang terkait pemenuhan ketentuan free float akan diterapkan secara bertahap mulai 30 November 2026 untuk Papan Akselerasi dan 30 April 2027 untuk Papan Utama serta Papan Pengembangan. Di pasar global ETF EIDO menguat 081 persen sedangkan MSCI Indonesia menunjukkan pergerakan datar dengan pelemahan tipis 007 persen.

Dari ranah aksi korporasi PT Telkom Indonesia Tbk TLKM mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp7590 triliun pada semester I-2026 tumbuh 390 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp7305 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh kinerja segmen B2B Infrastructure yang melonjak 1900 persen menjadi Rp3310 triliun berkat peningkatan bisnis data internet dan layanan TI. Di segmen ritel pendapatan Telkomsel naik 330 persen menjadi Rp5560 triliun ditopang pertumbuhan bisnis digital sebesar 1100 persen dan kenaikan average revenue per user ARPU seluler menjadi Rp45600 dari Rp41835 pada semester I-2025. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga naik 140 persen menjadi Rp1060 triliun didukung program efisiensi yang mendorong arus kas operasional tumbuh 700 persen menjadi Rp3490 triliun.

Selanjutnya PT Bukit Uluwatu Villa Tbk BUVA berencana menggelar Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu PMHMETD II dengan target maksimal Rp154 triliun. Perseroan akan menerbitkan hingga 615 miliar saham baru atau sekitar 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah aksi korporasi dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham. Setiap pemegang empat saham lama yang tercatat pada 28 September 2026 berhak atas satu HMETD untuk membeli satu saham baru dengan potensi dilusi maksimal 20 persen. Dana hasil aksi korporasi ini akan dialokasikan untuk penyertaan modal di Bukit Bali Permai guna mengakuisisi Royal Uluwatu Residence dan mengembangkan proyek West Resort Uluwatu senilai Rp42049 miliar pelunasan dipercepat utang pembiayaan Rp41780 miliar pembangunan infrastruktur Uluwatu Estate Rp39619 miliar renovasi Alila Ubud Rp150 miliar serta penyertaan modal di Bukit Lagoi Villa sebesar Rp150 miliar.

Sementara itu PT Triputra Agro Persada Tbk TAPG telah menetapkan dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp60 per saham atau setara sekitar Rp119 triliun. Angka ini mencerminkan rasio pembayaran dividen sebesar 5839 persen dari laba bersih semester I-2026. Perseroan sebelumnya membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp204 triliun dengan saldo laba ditahan Rp621 triliun dan total ekuitas Rp1193 triliun. Berdasarkan harga penutupan saham pada 3 Agustus di level Rp1840 per saham dividen interim ini merepresentasikan dividend yield sekitar 326 persen. Jadwal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 11 Agustus 2026 sedangkan pembayaran dividen dijadwalkan paling lambat pada 31 Agustus 2026.

Penting untuk diingat bahwa setiap analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini hanya bersifat informasi semata dan bukan merupakan ajakan untuk melakukan transaksi jual beli saham tertentu.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar