Saham BBCA Ambles 5%! Pemerintah Incar 51%?

Saham BBCA Ambles 5%! Pemerintah Incar 51%?

Haluannews Ekonomi – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tengah mengalami tekanan signifikan. Pada perdagangan Jumat (22/8/2025), harga saham BBCA merosot 1,17% ke level 8.450. Dibandingkan puncaknya pada Rabu (13/8/2025), penurunannya telah mencapai 5,32%. Sepanjang tahun berjalan, saham emiten perbankan ini bahkan telah terkoreksi hingga 14,65%.

COLLABMEDIANET

Anjloknya harga saham BBCA ini tak lepas dari kontroversi penjualan 51% sahamnya pada tahun 2002 dalam rangka penyelesaian kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Isu kerugian negara yang ditimbulkan dari transaksi tersebut kembali mencuat dan memicu sorotan publik, termasuk dari DPR. Desakan agar pemerintah mengambil alih 51% saham BBCA tanpa kompensasi pun mengemuka. Meskipun CEO Danareksa, Rosan Roeslani, telah membantah rencana akuisisi tersebut, sentimen negatif tetap membayangi. Corporate Secretary BCA, I Ketut Alam Wangsawijaya, juga membantah adanya pelanggaran hukum dalam transaksi tersebut.

Saham BBCA Ambles 5%! Pemerintah Incar 51%?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, sentimen positif dari penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia tak mampu membendung tekanan jual yang signifikan terhadap saham BBCA. Pada perdagangan Kamis (21/8/2025), tercatat net sell mencapai Rp 130,2 miliar dari investor domestik. Industri perbankan secara keseluruhan juga menghadapi tantangan, di mana suku bunga tinggi menekan pendapatan akibat kenaikan beban bunga.

Haluannews.id Research mencatat, langkah konservatif BBCA terlihat dari kenaikan guidance Cost of Credit (CoC) tahun ini. Pada semester I 2025, beban provisi BBCA melonjak 43% (yoy), bahkan mencapai 81% (yoy) pada kuartal II. Kenaikan ini membuat CoC naik menjadi 0,5% dari 0,3% pada semester I/2024. Peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL gross) menjadi 2,2% pada kuartal II/2025 dari 2,0% kuartal sebelumnya dan 1,8% pada akhir 2024, turut berkontribusi.

Meskipun laba bersih BBCA pada semester I 2025 mencapai Rp29 triliun, meningkat 8% (yoy), pertumbuhan ini cenderung melambat secara historis dalam basis kuartalan. Peningkatan cadangan untuk mengantisipasi kredit macet jelas membebani profitabilitas.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar