Haluannews Ekonomi – Jakarta, Haluannews.id – Saham emiten perbankan besar kompak melemah tajam di perdagangan Senin (10/2/2025). BMRI anjlok 2,43% ke level 5.025, BBRI ambles 1,24% di angka 3.980, BBCA melemah 2,14% menjadi 9.150, dan BBNI turun tipis 0,47% ke 4.250. Anjloknya harga saham ini memicu pertanyaan: apa penyebabnya?

Related Post
Menurut Arjun Ajwani, Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, beberapa faktor berkontribusi terhadap penurunan ini. "Pasar mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk penjualan saham oleh investor asing akibat risiko global, volatilitas pasar yang tinggi, kinerja perbankan yang lesu dan di bawah ekspektasi pasar, serta kebijakan baru penghapusan kredit macet," jelasnya kepada Haluannews.id. Arjun menambahkan, dinamika global seperti eskalasi tensi geopolitik dan perang dagang juga turut memengaruhi sentimen pasar. Kebijakan penghapusan kredit macet, meskipun berpotensi menurunkan rasio kredit bermasalah (NPL) jangka panjang, memberikan dampak negatif jangka pendek karena meningkatkan kerugian bank.

Pendapat senada disampaikan Aqil Triyadi, Research Analyst PT Panin Sekuritas Tbk. Ia menunjuk keluarnya dana asing sebagai penyebab utama pelemahan saham bank besar. "Asing memiliki bobot kepemilikan yang besar di sektor perbankan dan likuiditas yang tinggi," ujar Aqil kepada Haluannews.id. Selain itu, proyeksi perlambatan pertumbuhan kredit pada 2025 juga turut menekan kinerja perbankan.
Namun, tidak semua analis pesimis. Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, melihat potensi perbaikan kinerja emiten perbankan pada 2025 setelah Bank Indonesia memangkas suku bunga pada 2024. "Diharapkan tekanan pada perbankan dapat mereda, sehingga memicu kenaikan kinerja atau optimalisasi," kata Nafan kepada Haluannews.id. Ia menjelaskan, kinerja perbankan pada 2024 terbebani oleh suku bunga BI yang tinggi, yang meningkatkan biaya operasional dan menggerus profitabilitas. Intinya, penurunan saham bank besar ini merupakan perpaduan kompleks dari faktor global dan domestik yang perlu dipantau lebih lanjut.











Tinggalkan komentar