Rupiah Tertekan! Dolar AS Kembali Menguat di Awal Pekan

Rupiah Tertekan! Dolar AS Kembali Menguat di Awal Pekan

Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah memulai perdagangan awal pekan ini dengan tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada pembukaan pasar, Senin (28/7/2025), mata uang Garuda terpantau melemah tipis.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan data dari Refinitiv, rupiah dibuka pada level Rp16.320 per dolar AS, terkoreksi 0,06% dibandingkan penutupan sebelumnya. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia, juga menunjukkan pelemahan tipis ke level 97,63.

Rupiah Tertekan! Dolar AS Kembali Menguat di Awal Pekan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meskipun demikian, sepanjang pekan lalu, rupiah sebenarnya mampu mencatatkan penguatan mingguan sebesar 0,15% terhadap dolar AS. Kinerja positif ini didukung oleh sentimen pelemahan dolar AS secara global, yang tercermin dari penurunan indeks DXY sebesar 0,85%.

Pergerakan rupiah pada hari ini diperkirakan akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen eksternal. Salah satu faktor utama adalah kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa yang baru saja tercapai. Kesepakatan ini menurunkan tarif impor produk-produk Eropa dari 30% menjadi 15%, sehingga meredakan ketegangan dagang dan berpotensi memperkuat mata uang euro.

Selain itu, pasar juga akan menantikan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada tanggal 29-30 Juli, serta data inflasi terbaru melalui laporan Core Personal Consumption Expenditures (PCE). Kedua faktor ini akan menjadi penentu arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) ke depan.

Saat ini, pasar masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 4,25%-4,50%, sejalan dengan pernyataan terbaru dari FOMC. The Fed menilai bahwa perekonomian AS masih tumbuh solid dan inflasi masih relatif tinggi.

Namun, fokus utama investor saat ini tertuju pada pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell. Sinyal dovish dari Powell, seperti membuka peluang pemangkasan suku bunga pada kuartal III jika inflasi terkendali dan ketidakpastian ekonomi global menurun, dapat menjadi katalis positif bagi rupiah. Sebaliknya, jika Powell tetap hawkish dan menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga serta mewaspadai risiko geopolitik, tekanan terhadap rupiah dapat kembali meningkat.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar