Rupiah Terpukul Dolar AS Menguat Lagi Ini Solusinya

Rupiah Terpukul Dolar AS Menguat Lagi Ini Solusinya

haluannews.id – Pasar keuangan Indonesia kembali bergejolak pagi ini. Nilai tukar rupiah harus mengakui dominasi dolar Amerika Serikat yang kembali menunjukkan kekuatannya. Namun di balik tekanan ini, pemerintah punya jurus ampuh untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang Paman Sam.

COLLABMEDIANET

Pada pembukaan perdagangan Jumat 26 Juni 2026, mata uang Garuda terpantau melemah. Data dari Refinitiv mencatat rupiah terdepresiasi 0,20 persen, bertengger di level Rp17.950 per dolar AS. Padahal sehari sebelumnya, Kamis 25 Juni 2026, rupiah sempat menunjukkan perlawanan dengan ditutup menguat tipis 0,06 persen pada Rp17.915 per dolar AS.

Rupiah Terpukul Dolar AS Menguat Lagi Ini Solusinya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, juga turut menguat. Pukul 09.00 WIB, DXY naik 0,10 persen mencapai 101,533. Meskipun demikian, ada harapan rupiah masih bisa bertahan positif di tengah fluktuasi dolar AS di pasar global yang cenderung stabil.

Indeks dolar AS sendiri sempat menghentikan laju penguatan tiga hari beruntun pada perdagangan Kamis. DXY memang turun dari puncaknya sejak Mei 2025, namun tetap berada di jalur penguatan mingguan kedua berturut-turut. Kondisi ini terjadi setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas pada akhir Februari, memicu ketidakpastian global.

Para pelaku pasar juga terus memantau data inflasi dari Amerika Serikat. Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang menjadi acuan utama bank sentral AS, tercatat naik 4,1 persen secara tahunan pada Mei 2026. Angka ini sesuai ekspektasi ekonom dan mengindikasikan bahwa tekanan biaya hidup di AS masih tinggi, terutama karena konflik Timur Tengah turut mendongkrak harga energi.

Menyikapi gejolak global dan dominasi dolar AS, pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Berbagai upaya strategis tengah digalakkan untuk meminimalisir ketergantungan terhadap mata uang Negeri Paman Sam. Salah satu langkah konkret adalah rencana penerbitan surat utang berdenominasi yuan China, yang dikenal sebagai Panda Bond.

Plt Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, menjelaskan bahwa penerbitan Panda Bond merupakan bagian integral dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan pemerintah. "Alasan penerbitan Panda Bond adalah untuk mencari sumber pembiayaan alternatif. Dengan diversifikasi ini, kami berharap risiko beban APBN dari pembiayaan utang yang bersumber dari risiko nilai tukar dapat diminimalisir, sehingga kita bisa mengurangi dampak ketergantungan pada dolar AS," ujar Herman saat ditemui wartawan di kantornya, Kamis 26 Juni 2026.

Herman menambahkan, dengan adanya sumber pembiayaan yang lebih beragam, tekanan akibat fluktuasi dolar AS terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diharapkan dapat lebih terkendali. Ia menilai China sebagai salah satu pasar yang sangat menarik, mengingat tingginya permintaan terhadap surat utang Indonesia dengan harga yang masih selaras dengan fundamental ekonomi nasional.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menegaskan bahwa Panda Bond sangat strategis. Ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mendiversifikasi instrumen surat utang. Skema ini juga memungkinkan penggunaan Local Currency Transaction (LCT), yang berarti transaksi tidak perlu lagi bergantung pada konversi ke dolar AS, semakin memperkuat kemandirian finansial Indonesia.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar