IHSG Anjlok Parah Investor Panik Ada Apa

IHSG Anjlok Parah Investor Panik Ada Apa

haluannews.id – Pasar modal Indonesia dikejutkan dengan pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan Jumat 26 Juni 2026. Setelah sempat menunjukkan sinyal positif di awal sesi, indeks acuan ini justru berbalik arah dan anjlok lebih dari satu persen, memicu kekhawatiran di kalangan investor.

COLLABMEDIANET

Hingga pukul 09.32 WIB, IHSG tercatat merosot 1,13 persen atau setara 67,53 poin, bertengger di level 5.931,51. Pergerakan indeks hari ini cukup volatil, sempat menyentuh puncak 6.045,26 sebelum tergelincir drastis hingga menyentuh titik terendah 5.930,30. Dominasi aksi jual terlihat jelas di lantai bursa, menandakan sentimen negatif yang kuat.

IHSG Anjlok Parah Investor Panik Ada Apa
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Data perdagangan menunjukkan, sebanyak 470 saham terperosok ke zona merah, jauh melampaui 139 saham yang berhasil menguat. Sementara itu, 350 saham lainnya bergerak stagnan. Total nilai transaksi mencapai angka fantastis Rp2,33 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 4 miliar saham dalam 375.600 kali transaksi, menunjukkan intensitas jual beli yang tinggi.

Pelemahan IHSG ini diyakini merupakan respons pasar terhadap kombinasi sentimen dari kancah global dan domestik. Dari panggung dunia, investor tengah mencermati data ekonomi Amerika Serikat yang kian menguat. Indikator-indikator tersebut berpotensi mendorong bank sentral AS The Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter ketatnya lebih lama.

Inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Mei 2026 melonjak menjadi 4,1 persen secara tahunan, sebuah rekor tertinggi sejak April 2023 dan jauh di atas target The Fed sebesar 2 persen. Bersamaan dengan itu, pertumbuhan ekonomi AS kuartal I-2026 direvisi naik menjadi 2,1 persen, serta klaim pengangguran yang menurun menjadi 215.000, mengindikasikan pasar tenaga kerja yang masih solid. Skenario inflasi panas dan ekonomi kuat ini meningkatkan peluang The Fed untuk menahan suku bunga tinggi, yang pada gilirannya dapat memperkuat dolar AS dan memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Di ranah domestik, kebijakan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) turut menjadi sorotan. LPS baru saja menaikkan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum menjadi 3,75 persen untuk periode 1 Juli hingga 30 September 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya menjaga kepercayaan terhadap tingkat bunga penjaminan di tengah kenaikan suku bunga acuan dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Selain itu, pemerintah Indonesia juga tengah bersiap menerbitkan Panda Bond berdenominasi yuan pada awal Juli 2026. Instrumen ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan negara, sekaligus memperluas akses pendanaan di pasar keuangan Tiongkok. Meskipun bertujuan positif, timing dan dampaknya terhadap sentimen pasar masih terus dicermati.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar