Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah memulai pekan ini dengan sentimen negatif, terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin (13/10/2025). Data Refinitiv menunjukkan rupiah dibuka pada posisi Rp16.560 per dolar AS, melemah 0,09% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Related Post
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif yang terjadi pada Jumat (10/10/2025), di mana rupiah ditutup pada level Rp16.545 per dolar AS, terdepresiasi 0,03%. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah tipis 0,04% ke level 98,936.

Sejatinya, pergerakan rupiah hari ini mendapatkan sedikit dorongan dari pelemahan indeks dolar AS (DXY). Tekanan pada dolar AS dipicu oleh ancaman Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan tarif 100% terhadap produk-produk asal China.
Ancaman ini memicu kekhawatiran pasar akan eskalasi perang dagang yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global. Akibatnya, investor cenderung mengurangi kepemilikan aset dolar AS karena ketidakpastian yang ditimbulkan oleh kebijakan proteksionis tersebut.
Melemahnya dolar AS seharusnya memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat. DXY yang tertekan mengindikasikan penurunan permintaan global terhadap aset dolar AS, sehingga mendorong investor untuk mengalihkan dana ke aset-aset negara berkembang yang menawarkan imbal hasil lebih menarik, termasuk Indonesia.
Aliran dana asing yang mulai kembali masuk ke pasar saham dan obligasi domestik sepanjang pekan lalu juga memberikan dukungan terhadap rupiah di kisaran Rp16.500 per dolar AS. Namun, pelaku pasar masih akan terus memantau perkembangan kebijakan tarif AS terhadap China serta sinyal kebijakan moneter dari The Federal Reserve (The Fed) dalam beberapa pekan mendatang. Sentimen global dan domestik akan terus menjadi penentu arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar