KRL Bekas Jepang Segera Masuk Indonesia

haluannews.id – Isu mengenai rencana impor Kereta Rel Listrik (KRL) bekas asal Jepang tengah menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat pengguna transportasi publik. Kabar mengenai kemungkinan masuknya rangkaian KRL seri JR 209 ke Indonesia memicu rasa penasaran, terutama terkait kepastian armada yang akan digunakan untuk memperkuat layanan Commuter Line di wilayah Jabodetabek.

COLLABMEDIANET

Menanggapi kabar yang beredar luas tersebut, pihak KAI Commuter akhirnya memberikan klarifikasi resmi. Saat ini, proses pengadaan armada tambahan tersebut masih berada dalam tahap koordinasi intensif. Pihak operator terus menjalin komunikasi dengan penyedia layanan kereta api di Jepang guna memastikan ketersediaan unit serta mengecek kondisi teknis dari rangkaian kereta yang akan didatangkan.

KRL Bekas Jepang Segera Masuk Indonesia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk memastikan bahwa meskipun armada yang diboyong adalah barang bukan baru, kualitas dan kelayakannya tetap terjaga. "Kami masih dalam tahap koordinasi dan komunikasi dengan operator di Jepang untuk memastikan ketersediaan serta kondisi KRL tersebut," ungkap Karina kepada haluannews.id.

Langkah pengadaan KRL bekas ini merupakan bagian dari strategi mitigasi untuk mengatasi lonjakan jumlah penumpang yang sangat signifikan. Berdasarkan data terbaru, jumlah pengguna KRL Jabodetabek terus menunjukkan tren kenaikan yang tajam. Pada semester pertama tahun 2026 saja, angka penumpang tercatat tumbuh sebesar 11,3 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dalam kesehariannya, rata-rata penumpang mencapai 1,1 juta orang per hari, bahkan bisa melonjak hingga 1,3 juta orang pada jam-jam sibuk.

Dalam rencana pengusulannya, KAI mengajukan pengadaan sebanyak 23 rangkaian kereta (trainset) bekas. Formasi rangkaian ini akan dibagi menjadi dua jenis guna menyesuaikan dengan kemampuan infrastruktur stasiun yang ada di Indonesia. Sebanyak tujuh rangkaian akan menggunakan formasi 12 kereta (SF12), sementara 16 rangkaian lainnya akan menggunakan formasi delapan kereta (SF8). Pembagian ini sangat krusial agar operasional kereta tidak terkendala oleh panjang peron stasiun yang terbatas.

Selain masalah ketersediaan, alasan utama di balik rencana ini adalah kebutuhan mendesak akan peremajaan armada. Saat ini, sejumlah rangkaian KRL yang masih melayani penumpang di Jakarta sudah berusia di atas 40 tahun. Mengingat proses produksi kereta baru membutuhkan waktu yang cukup lama, impor KRL bekas ini dipandang sebagai solusi jangka pendek atau "jembatan" untuk memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan.

Pemerintah dan DPR RI pun mendukung penuh langkah transisi ini. Impor armada bukan baru ini diharapkan dapat berjalan secara terintegrasi sambil menunggu industri perkeretaapian dalam negeri mampu memproduksi armada secara mandiri. Rencananya, rangkaian impor ini akan dioperasikan dalam jangka waktu terbatas, yakni sekitar 10 tahun ke depan.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, dalam sebuah rapat dengar pendapat menyatakan bahwa langkah ini merupakan upaya untuk memenuhi kapasitas angkutan sekaligus memastikan keberlanjutan layanan transportasi massal yang berkualitas bagi masyarakat.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar