haluannews.id – Ambisi buta untuk mendapatkan uang tunai dalam jumlah fantastis telah membawa seorang mahasiswa di Taipei, Taiwan, bernama Zhang, ke dalam tragedi yang mengubah hidupnya selamanya. Niat jahat untuk menipu perusahaan asuransi berakhir dengan konsekuensi yang sangat mengerikan, di mana ia harus kehilangan kedua kakinya akibat tindakan yang ia lakukan sendiri.

Related Post
Kasus yang menggemparkan publik ini bermula dari skema penipuan yang terencana secara sistematis. Zhang diketahui telah membeli berbagai jenis polis asuransi dari lima perusahaan berbeda sejak tahun 2005 hingga awal 2023. Produk yang ia miliki sangat beragam, mulai dari asuransi kesehatan, jiwa, kecelakaan, perawatan jangka panjang, hingga asuransi perjalanan.

Untuk mencairkan dana pertanggungan yang sangat besar, Zhang tidak bekerja sendirian. Ia bersekongkol dengan mantan teman sekolah menengahnya yang bernama Liao. Rencana gila ini dijalankan dengan cara yang sangat ekstrem dan menyakitkan secara fisik.
Pada 26 Januari 2023, keduanya membeli es kering di New Taipei City dan menuju kediaman Liao di Distrik Zhongshan, Taipei. Di sana, sebuah aksi penyiksaan diri dilakukan demi klaim asuransi. Zhang memasukkan kedua kaki telanjangnya ke dalam ember berisi es kering, sementara Liao mengikat tubuh Zhang ke kursi menggunakan tali plastik. Ikatan ini bertujuan agar Zhang tidak menarik kakinya saat rasa sakit yang luar biasa mulai menyerang.
Aksi menyiksa diri ini berlangsung selama kurang lebih 10 jam, dimulai dari pukul 02.00 pagi hingga tengah hari. Selama proses tersebut, Liao bahkan mendokumentasikan aksi tersebut melalui foto dan video sebagai bukti untuk klaim asuransi.
Dua hari setelah kejadian tersebut, Zhang akhirnya mencari bantuan medis di ruang gawat darurat Rumah Sakit Mackay Memorial. Hasil diagnosis dokter sangat mengejutkan: ia menderita radang dingin (frostbite) tingkat empat di bawah kedua betisnya, nekrosis tulang, sepsis, hingga rhabdomyolysis. Kondisi luka yang sangat parah ini memaksa tim medis untuk melakukan amputasi pada kedua kaki Zhang.
Dalam pengajuan klaimnya, pasangan ini berbohong dengan menyatakan bahwa cedera tersebut terjadi akibat kecelakaan saat Zhang mengendarai sepeda motor pada larut malam. Mereka mengajukan klaim total senilai NT$41,26 juta atau setara dengan Rp22,7 miliar kepada lima perusahaan asuransi.
Namun, rencana jahat ini akhirnya terbongkar. Meskipun satu perusahaan sempat membayar klaim kecil, empat perusahaan asuransi lainnya berhasil mendeteksi adanya kejanggalan dan ketidaksesuaian data, sehingga mereka menolak klaim tersebut. Tak berhenti di situ, kelima perusahaan asuransi tersebut melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian.
Kasus ini akhirnya dibawa ke meja hijau. Pengadilan Tinggi Taiwan menjatuhkan vonis hukuman dua tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun bagi Zhang. Sementara itu, Liao yang bertindak sebagai otak di balik skema ini, dijatuhi hukuman penjara selama enam tahun. Pengadilan menilai Zhang telah menanggung penderitaan fisik yang luar biasa, sementara Liao dianggap sebagai dalang utama yang merencanakan skema penipuan ini. Kasus ini kini menjadi peringatan keras bagi masyarakat mengenai risiko fatal di balik tindakan kriminal demi uang.










Tinggalkan komentar